Catatan Mahasiswi UIN Bandung ketika KKN di Arso, Kab.Keerom- Papua

Arum Rumaesih merupakan mahasiswi Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

JAYAPURA,FP.COM- Redaksi fokuspapua.com menerima pesan dari seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Bandung, Kamis(28/7/2022). Isinya meminta kesediaan fokuspapua.com mempublikasikan tulisan dia tentang pengalamannya melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Berikut isi tulisan yang dikirim ke redaksi fokuspapua.com…

Saya Arum Rumaesih merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berdomisili di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Read More

Alhamdulillah puji syukur, saya lolos seleksi dalam kegiatan KKN Kolaborasi Nusantara Moderasi Beragama di Papua, dan menjadi delegasi dari UIN Bandung, bersama dengan 3 teman saya, yakni Lia Lutfiah, Sugeng Riyadi dan Surya Adam Hasibuna.

Menjadi delegasi KKN Kolaborasi Nusantara merupakan salah satu target yang saya tetapkan ketika memasuki semester 4. KKN Kolaborasi Nusantara merupakan program tahunan dari KEMENAG RI. Ini merupakan salah satu anugerah yang sangat saya syukuri, meskipun harus mengikuti berbagai rangkaian seleksi hingga lolos dan pergi menuju Papua untuk menunaikan KKN ini.

17 Juli 2022, awal kaki saya menginjakan di Papua, betapa indahnya sumber daya alam yang merupakan surga kecil yang jatuh ke bumi, bertemu dengan orang timur yang ramah dengan senyuman.

Selama 3 hari sebelum penerjunan, saya diberikan pembekalan dari IAIN Fattahul Muluk mengenai keadaan daerah papua sampai prosedur dalam penelitian yang dimana akhirnya bisa dijadikan acuan untuk membuat artikel ilmiah setelah kegiatan KKN.

Rabu, 20 Juli 2022, penerjunan seluruh mahasiswa KKN, dan saya ditempatkan di Arso IX, Distrik Skamto, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Saya ditunjuk sebagai sekretaris kelompok KKN Intaimelyan.

Dengan tema moderasi dan integrasi beragama, maka kelompok saya itu dari latar belakang dan instansi yang berbeda ada yang dari islam dan nasrani, ini merupakan wujud toleransi walaupun berbeda agama tapi kita bisa bergandengan tangan untuk mewujudkan tujuan yang sama, mengabdikan diri di Tanah Papua.

Tantangan yang saya hadapi selama di tempat KKN adalah terbatasnya ruang untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Karena sebagian masyarakat adalah petani, maka untuk berdiskusi, waktu yang tepat biasanya setelah maghrib.

Saya sangat terharu, ternyata apa yang saya tahu di media,  tidak sesuai dengan apa yang saya lihat. Betapa kaya rayanya orang papua, bahkan saya tidak pernah sama sekali melihat pemulung, pengemis dan yang mengagetkan tidak ada yang jual minyak goreng curah.

Luar biasa tanahmu wahai Papua, ribuan orang bisa mendapatkan rezeki dari tanahmu yang subur. Semoga akses dalam segala hal bisa dimudahkan, khususnya dalam bidang pendidikan supaya semua warga mendapatkan hak untuk bisa mendapatkan pendidikan.*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *