Menulis itu sangat penting,kalo kitong cuma bicara-bicara saja,
nanti orang dengar setelah itu lupa.
YULIANA BLANDINA RUMASEB menceritakan pengalamannya menulis ”Kamus Tok Pisin -Indonesia.” Bermula dari media sosial, tahun 2006-2008 ada satu grup daring, yaswarau.com. Satu tema belajar pun digagas,”Mari belajar belajar Bahasa Tok Pidgin PNG-Indonesia.”
Yuliana sebagai pembina selama proses belajar berlangsung. Diakui peminatnya mencapai 3 ribu orang.
Suatu waktu, Yuliana bertemu dengan Renne Anastasya di sebuah stasiun kereta api di Belanda. Tak lama keduanya bepisah, Renne kembali ke tempat tinggalnya di Italia. Renne perempuan yang ayahnya berasal dari Vanimo[Sandaun Province] dan ibu asal Biak, Papua. Perbincangan keduanya berlanjut.
Dari grup Tok Pisin, banyak sekali pertanyaan dari anggota. Tahun pertama, kedua, masih berjalan normal.
Menurutnya, lantaran terlalu banyak pertanyaan yang sama sering diulang-ulang. entah, mungkin karena tidak mengikuti diskusi di grup. Mempengaruhi kemajuan belajar anggota lain yang jumlahnya cukup banyak. Grup tidak dilanjutkan.
Dari situ, ide Renne muncul, katanya dalam obrolan kecil kepada Yuliana,”Bagaimana kalau kaka menulis Kamus Tok Pisin- Bahasa Indonesia,”ketus Renne.
Spontan Yuliana menjawab,”Menulis kamus?Bagaimana bisa, sementara sepuluh anak saya dalam rumah ini bagaimana? tanggungjawab berat sekali.”
Baiknya dicoba dulu tanggap Renne serius dan menyakinkan Yuliana. Namun ketika itu, tidak langsung dilakukan. Proses penulisan baru di lakukan tahun 2016.
Pengalaman perempuan kelahiran 8 April 1969 itu, rupanya tidak semudah yang dibayangkan.
Kepada penulis, Yuliana akui tantangan terberatnya adalah saat menerjemahkan perbendaharaan tata Bahasa Indonesia baku.
Ia menuturkan,”Ada waktu di mana saya mengalami kebutuhan berpikir. Rasanya sungguh amat sangat berat sekali. Harus berbagi waktu dengan pekerjaan di luar rumah dan rutinitas pekerjaan rumah tangga. Waktu luang itu, saya sempatkan untuk menulis,”kesannya.
Tidak banyak berharap pada suami dan anak-anak untuk membantunya—mereka kurang fasih kosa kata yang baku dalam Bahasa Indonesia.
Masa-masa itu, hanya layar komputer yang menemaninya pada fase berat di selingi musim berganti di Negeri Kincir Angin[Belanda]. Musim boleh berlalu, tapi semangatnya tak pernah pudar untuk membantu orang-orang di perbatasan Papua New Guinea[PNG] dan Republik Indonesia[RI].
Berangkat dari pengalaman hidupnya di sebuah camp pengungsian di Wara Camp Papua New Guinea pada 1992-2004 lalu.
Sebagai pengungsi,”Sa tahu benar kondisi apa yang dihadapi seseorang ketika seseorang yang berada pada tempat di mana dia sama sekali tidak paham bahasa penduduk setempat. Rasanya semua gelap,” kenang perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan [FKIP] Ilmu Sejarah pada Universitas Cendrawasih.
Dari pengalaman itu, anak dari almarhum Mantri Bastian Rumaseb dan almarhuma Rosina Infaindan,sebelumnya sempat pisimis.
”Saya sadar dan tahu, menulis sebuah kamus itu berat. Tapi,sa mo bantu mereka untuk mengetahui kedua bahasa Tok Pisin dan Bahasa Indonesia,”kesan perempuan tamatan SD YPPGI Bomakia,Boven Digoel.
Ibarat beban jika dipikul sendiri pasti berat. Cara yang dilakukan Yuliana agar tidak putus asa dan berhenti menulis. Beberapa bahan tulisan kamus yang sedang digarapnya di bagikan pada akun media sosialnya.
Menurutnya,komunikasi yang seimbang itu sangat penting dan itu hanya akan terjadi jika pendengar dan pembicara bisa saling memahami bahasa yang dipakai.
Ketika ditanya,mengapa membagi tulisan yang belum selesai di media sosial?
”Saya lakukan cara itu sebagai bagian dari berbagi beban. Meski beragam tanggapan berupa kritik dan saran. Tulisan itu mengendap beberapa waktu di halaman facebook,dan ketika melihat kembali, seperti ada beban moril yang harus dikerjakan sampai selesai,” jawab perempuan yang hobi membaca buku.
Penulisan kamus itu proyek besar dan mesti punya keterampilan khusus di bidang bahasa. Sementara kamus tersebut ditulisnya sendiri. Dalam proses penulisan[2016-2017] pernah mengalami kendala,komputer rusak. Dan dilanjutkan awal 2018[setelah komputer diperbaiki].
Alumni SMA YPPK Santo Agustinus Sorong ini kembali termotivasi usai membaca biografi penulis Kamus Oxford [William Chester Minor]. Menulis itu sangat penting.
Disadarinya,”Kalo kitong cuma bicara-bicara saja, nanti orang dengar setelah itu lupa. Itulah harta yang nilainya melampaui nilai emas, warisan bagi generasi penerus kita.”
Bulan April, 2022, penulisan kamus tuntas. Setelah selesai menulis kamus Tok Pisin, untuk mendapat pengakuan, lantaran Yuliana merupakan warga negara Belanda. Mesti melewati proses mendapatkan hak cipta di Brusel.
Kamus Tok Pisin Indonesia sangat penting utnuk wilayah perbabatan, selanjutnya siapa yang mau belajar itu kembali pada setiap individu.
Apalagi secara hubungan kekerabatan sejak nenek moyang Papua dan masuknya kolonialisme. Hubungan itu menjadi renggang.
”Di tambah lagi saudara di sebelah[PNG]bericara, kita tidak mengerti, bahasa nasionalnya. Sementara, sebagai besar orang PNG tidak paham bahasa Indonesia. Saya pikir, kamus Tok Pisin-Indonesia kemudian bisa memberikan kontribusi dalam hubungan komunikasi antar kedua negara,” pesannya.
Akhirnya, 24 Oktober 2025, Yuliana bisa melihat karyanya di luncurkan di Aula Fakultas FKIP Universitas Cendrawasih yang pernah menjadi kampusnya[enam semester] lantaran gejolak politik. Ia ke PNG,tinggal di Wara Camp. Kemudian berpindah ke Belanda.
Soal menulis diakui Fransiska Nomak salah satu pengungsi yang pernah tinggal bersama di Wara Camp.”Kami mengenalnya dengan nama Blandina. Suaminya sorang guru, Blandina sering mencatat administrasi sura-surat terkait pembaptisan anak,atau nikah Katolik di camp. Ketelitiannya tidak diragukan,” ujar Fransiska ketika bertemu Blandina, 18 Oktober 2025 di Jayapura.
Kamus Tok Pisin- Indonesia, Yuliana percayakan kepada Universitas Okmin Papua[OUP]yang berdiri,2021 lalu. Sebagai bentuk dukungan reputasi akademik bagi pengembangan di bidang kajian linguistik.
Itulah kisah perempuan dengan ciri khas rambut kribonya. Ia selalu mengenakan noken, kalung,anting-anting,busana khas perempuan Melanesia. Kepada penulis ketika melakukan proses wawancara,11 Mei 2022,yang berpesan,”Indentitas itu perlu dijaga meski hidup di negara lain.”
(Alfonsa Wayap)



