Dari Pesisir Halmahera, Harapan Burung Mamoa Tumbuh Bersama Masyarakat dan PLN

dok PLN UIP MPA

HALMAHERA UTARA,FP.COM – Di pesisir Desa Mamuya, langkah warga yang menyusuri hamparan pasir kini membawa makna berbeda. Jika dulu telur Burung Mamoa kerap diambil untuk konsumsi, kini telur-telur itu justru dijaga dan dipindahkan ke lokasi penetasan semi-alami sebagai bagian dari upaya pelestarian.

Perubahan ini menjadi bukti nyata dampak program konservasi yang dijalankan melalui kolaborasi masyarakat dan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA). Tidak hanya menjaga spesies endemik, program ini juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap alam.

Read More

Ketua Tim Konservasi Uniera, Fiktor Imanuel Boleu, menuturkan bahwa perubahan tersebut berawal dari pemahaman sederhana tentang keberlanjutan.

“Dulu kami ambil telur Mamoa karena itu yang kami tahu. Tapi sekarang kami sadar, kalau terus diambil tanpa dijaga, lama-lama burung ini bisa hilang. Program ini membuka wawasan kami bahwa menjaga alam justru bisa memberi manfaat lebih besar,” ujarnya.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN UIP MPA menghadirkan pendekatan konservasi yang tidak rumit namun efektif. Telur-telur yang ditemukan di habitat alami dipindahkan ke area penetasan semi-alami dengan pengawasan masyarakat. Cara ini terbukti meningkatkan tingkat keberhasilan menetas sekaligus meminimalkan gangguan dari aktivitas manusia maupun ancaman lingkungan.

Namun dampak program ini tidak berhenti pada aspek ekologis. Keterlibatan aktif masyarakat menjadikan konservasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Warga yang dulunya hanya menjadi pemanfaat sumber daya, kini bertransformasi menjadi penjaga ekosistem.

Perubahan tersebut juga membuka peluang baru. Desa Mamuya mulai dikenal sebagai kawasan eduwisata berbasis konservasi, di mana pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penetasan Burung Mamoa, belajar tentang ekosistem pesisir, hingga berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Untuk memastikan keberlanjutan, upaya ini diperkuat melalui inisiasi Peraturan Desa (Perdes) konservasi Burung Mamoa. Langkah ini menjadi fondasi penting agar praktik pelestarian tidak hanya bergantung pada program, tetapi menjadi bagian dari sistem yang dijaga bersama oleh masyarakat.

General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen PLN dalam menghadirkan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat.

“PLN UIP MPA tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Program konservasi Burung Mamoa ini menunjukkan bahwa energi yang kami hadirkan juga membawa dampak positif bagi ekosistem dan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program terletak pada kolaborasi yang kuat.

“Kami percaya, keberlanjutan hanya bisa tercapai ketika masyarakat menjadi bagian dari solusi. Ketika kesadaran itu tumbuh, maka dampaknya akan terus berlanjut bahkan setelah program selesai,” tambahnya.

Kini, dari pesisir Halmahera, cerita tentang Burung Mamoa bukan lagi sekadar kisah tentang satwa yang terancam. Ia telah menjadi simbol perubahan seperti bagaimana kesadaran, kolaborasi, dan kepedulian dapat mengubah ancaman menjadi harapan. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *