Didaulat Membawa Obor PON, Kartika Monim Ungkap Rasa Bangganya

  • Whatsapp
Mantan pemain tim nasional voli putri Indonesia, Kartika Monim

JAYAPURA, FP.COM – Hati Mama Tika Monim tengah berbunga-bunga. Wanita 58 tahun ini telah resmi ditunjuk sebagai pembawa obor PON (Pekan Olahraga Nasional) Papua 2021. Ia mengaku cukup terkejut dan tak menyangka bakal mendapat kepercayaan itu.

Read More

iklan

iklan

Sebelumnya, ia sudah mendengar desas- desus tentang dirinya yang diajukan sebagai pembawa obor PON. Tapi itu hanya sebatas usulan warga kampung Ayapo. Itu pun tidak ditanggapinya.

“Mama dengar dari masyarakat di kampung yang bicara, katanya, seluruh ondoafi kumpul di kampung Ayapo, terus usul (saya) besok yang bawa obor PON,” kata wanita yang punya nama lengkap Kartika Monim ini.

Tapi kabar burung itu kian mendekati kenyataan saat namanya masuk sebagai satu dari tiga nominasi. Dan kabar baik itu pun datang juga, setelah PB PON Sub Kabupaten Jayapura mengumumkannya pada 19 September 2021. Mama Tika bersama Erny Sokoy dipastikan terpilih.

‘Saya baca dari postingan ade Ekbert Kopeuw di Facebook. Dia dari PB PON Sub Kabupaten,” akunya.

Setelah dihubungi PB PON, ia pun menyatakan kesiapannya. “Saya siap!, memang saya punya usia sudah 58 tahun, tidak mungkin saya bawa api PON ke sana. Cuma, dalam hati, saya katakan, Tuhan berikan saya kekuatan kepada saya seperti 38 tahun yg lalu. Di tahun ini berikan saya kekuatan itu untuk membawa Api PON di tanah saya sendiri.”

Tentu bukan tanpa alasan Mama Tika didaulat untuk tugas besar ini. Ia adalah legenda hidup bola voli dari Papua. Ia bukan sekadar atlet daerah, tetapi juga menembus tim nasional. Namanya tercatat sebagai bagian dari skuat inti yang mengantar Indonesia meraih medali emas voli putri di Sea Games 1983 Singapura. Ketika itu, ia bersama kawan-kawan, termasuk rekannya dari Papua, sekaligus kapten tim, Olce Rumaropen menghancurkan tim favorit Filipina dengan skor 3-2 di partai final. Hebatnya, ia masih sangat muda ketika itu, baru 19 tahun.

“Saya terlalu bangga karena 38 tahun saya dilupakan, tapi puji Tuhan ada yg menyiapkan saya untuk bawa obor PON. Saya terlalu bangga sekali, karena saya orang kabupaten dan saya bawa obor PON di tanah saya sendiri, Tanah Sentani,” tuturnya kepada Fokus Papua. Di bagian ini, ia tak kuasa menahan rasa harunya. Ia menangis.

“Saya pikir selama bertahun-tahun saya pikir pemerintah sudah lupakan saya. Terima kasih sudah memilih saya di event nasional ini,” sambungnya.

Tika Monim dijadwalkan membawa obor PON dari pantai Kalkhote ke Stadion Lukas Enembe. Ia mengaku, tengah fokus mempersiapkan mental, dan kesehatan.

“Nanti tanggal 27 kita semua kumpul di stadion Lukas Enembe baru diberi tahu teknisnya bagaimana,” pungkasnya. (*)

KONI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *