Dua Anak Muda Papua Ini Sosialisasikan Teknik FFS dalam Pengolahan Air Hujan

  • Whatsapp
Herman Ick dan Ribka Yoteni saat ditemui di Jayapura awal Juni 2022.

JAYAPURA,FP.COM- Tanah Papua, walaupun kaya dengan hutan dan memiliki ribuan sumber mata air yang mengalir melalui sungai, ternyata masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara di beberapa tempat, banyak warga yang sangat bergantung pada air hujan.

Melihat kondisi itu, Yayasan Mutiara Hitam Papua kemudian mengadakan program mengolah air hujan menjadi air bersih ini melalui program kemitraan bersama Sinode GKI di Tanah Papua dengan The Black Pearl Network (BPN) Australia. Karena itu dibuat Clean Water Program dengan menggunakan sistem pembilasan pertama atau The First Flush System (FFS).

Read More

Dua anak muda papua, Herman Ick dan Ribka Yoteni kemudian bergabung dalam proyek ini bersama Yayasan Mutiara Hitam Papua mengerjakan projek air bersih melalui pengelolaan air hujan bagi masyarakat Papua di kampung-kampung terpencil.

Herman Ick adalah lulusan Fakultas MIPA Uncen Tahun 2019 dan pernah mengikuti Australian Papuan Cultural Exchange Program (APCEP) di Perth Australia selama tiga bulan pada Tahun 2019. Saat ini dipercayakan sebagai supervisor dan trainner di Yayasan Mutiara Hitam Papua. Sedangkan Ribka Yoteni adalah Alumni Universitas Cenderawasih Tahun 2021, Jurusan Teknik Sipil Program Studi Pengairan atau Penyediaan Air Baku. Herman sudah bekerja di Yayasan Mutiara Hitam dari Tahun 2019, sedangkan Ribka baru diterima bekerja pada awal Tahun 2022.

 “Tempat yang sudah kami kunjungi untuk proyek ini adalah, Nabire, Wasior, Biak Utara, Biak Selatan dan Terakhir di Waropen,” ujar Herman Ick di Jayapura awal Juni 2022.

Pemuda 26 Tahun asal Maybrat ini menjelaskan, melalui Yayasan Mutiara Hitam, mereka memperkenalkan sistem pengelolaan air hujan menjadi air yang dapat dikonsumsi oleh rumah tangga, khususnya mereka di kampung-kampung yang bergantung pada air hujan. Sistem ini disebut The First Flush System atau Sistem Pembilasan Pertama (khusus air hujan).

Kenapa menggunakan sistem ini? Karena sistem ini yang paling murah dan dirancang dengan sederhana untuk masyarakat yang hidup di kampung-kampung terpencil. Disamping itu juga, perawatannya tidak sulit. Jadi sistem ini bisa dibangun sendiri oleh masyarakat dan dirawat sendiri oleh masyarakat.

“ Sistem pemasangannya seperti biasa, hanya ditambah beberapa pipa yang dimodifikasi secara sederhana,” ujarnya.

Ribka menambahkan, misalnya di Biak Selatan, warga di sana selama ini tahu prosedurnya dari atap ke talang, lalu dipasang seng untuk menyalurkan air ke tempat penampungan. Mereka juga selama ini beranggapan, kalau air hujan itu kurang sehat untuk dikonsumsi.

Karena itu, mereka senang mendapatkan ilmu itu, selain mudah dirancang tapi  juga mudah dioperasionalkan. “Bahan-bahan yang digunakan juga sederhana, jadi langsung nyambung dengan mereka, karena alat dan bahan yang digunakan semua adalah alat dan bahan yang sudah tersedia di kampungnya,” jelas Ribka.

Pekerjaan ini kemudian memberikan pengalaman tak ternilai bagi Herman dan Ribka. Keduanya bisa berjumpa dengan masyarakat dari suku dan latar belakang yang berbeda-beda. “ Pekerjaan ini membuat saya merasa sukacita, karena dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang di kampung,” tutur Herman.

Sementara untuk Ribka Yoteni, ia merasa pekerjaan ini tidak semata-mata hanya soal kerja, tapi ini adalah pelayanan. “ Di Biak Selatan dan Waropen, saya mendapati keluarga baru di sana, kita mendapati lingkungan yang baru, budaya di sana seperti apa, itu menjadi pengalaman yang berharga. Dimana saja kami pergi, kami selalu didoakan. Saya merasakan itu bukan pekerjaan tapi ini adalah suatu pelayanan,” tandasnya.

Kedua anak muda Papua ini berharap, kiranya contoh yang diberikan dan praktekan, dapat dikembangkan oleh masyarakat di kampung. Dapat berkembang dari satu rumah ke rumah-rumah lainnya, yang dilakukan oleh orang di kampung sendiri.

“Kami punya kerinduan, setelah kami pulang, mereka bisa lanjutkan bagi rumah-rumah lainnya di kampung itu maupun kampung tetangga. Mereka yang menerima sertifikat pelatihan ini, dapat memberikan pelayanan bagi rumah tangga lainnya,” ujar Herman.

Hingga saat ini sudah ada 6 kampung yang dijangkau oleh Program Air Bersih Yayasan Mutiara Hitam Papua. Di Sentani ada 2 kampung, Nabire 1 kampung, Biak 2 kampung dan Waropen 1 kampung. Karena pandemi yang melanda dunia selama dua tahun terakhir, membuat proyek ini sempat tertunda, dan akan dilanjutkan pada 2022 ini. *)



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *