FGD Tim Ekspedisi Patriot Bersama Kelompok Tani Yuruf Bahas Penguatan Ekonomi dan Potensi Komoditas Lokal

YAFFI.FP.COM – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok tani di Kampung Yuruf, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Balai Pertemuan Kampung Yuruf tersebut mengangkat tema “Penguatan Kelembagaan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal.”

Kegiatan dihadiri Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Mohamad Egi Destiartono, S.E., M.S.E., bersama anggota tim. FGD juga menjadi bagian dari kolaborasi dengan Tim Ekspedisi Patriot yang mengusung tema “Penyusunan Prioritas Pembangunan Jaringan Jalan” untuk melaukukan pemetaan komoditas unggulan kawasan.

Read More

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara tim dan kelompok tani untuk menggali informasi mengenai sejarah kelembagaan kelompok tani, potensi komoditas, perkembangan kegiatan pertanian, serta berbagai kendala yang dihadapi masyarakat dalam proses produksi hingga pemasaran hasil pertanian.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Mohamad Egi Destiartono, S.E., M.S.E., mengatakan bahwa pemahaman terhadap potensi lokal dan kondisi kelembagaan masyarakat menjadi dasar penting dalam merumuskan pengembangan ekonomi kawasan.

“Melalui FGD ini, kami ingin mendengar langsung pengalaman dan kondisi kelompok tani di Kampung Yuruf. Informasi dari masyarakat menjadi bagian penting untuk memahami potensi lokal, perjalanan kelembagaan kelompok tani, sekaligus tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan kegiatan ekonomi,” ujar Egi.

Dalam diskusi, Amos Popai, Ketua Kelompok Tani Yuruf II Noepa, menyampaikan bahwa kelompok tani yang dipimpinnya memiliki sejumlah komoditas seperti jagung, padi, umbi-umbian, dan sayuran. Kelompok tersebut telah berdiri sejak sekitar tahun 1990-an dan mulai menanam padi pada 2017 melalui program pertanian. Namun, setelah program padi berhenti, aktivitas pertanian kelompok juga tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

“Kami memiliki jagung, padi, umbi dan sayur. Kelompok ini sudah ada sejak tahun 1990-an dan pernah mulai menanam padi pada 2017. Namun setelah program padi berhenti, sekarang aktivitas kelompok tani juga tidak berjalan seperti dulu,” ungkap Amos.

Sementara itu, Paskalis Mandaweri, Ketua Kelompok Tani Yuruf II Marga Mandaweri dan Kemo (MK), menceritakan bahwa kelompoknya telah berdiri sejak sekitar tahun 1980-an dengan sistem pertanian tradisional. Pada tahun 1990-an, program pemerintah mulai mendorong kelompok untuk fokus pada komoditas kakao.

Memasuki sekitar tahun 2000, kelompok kemudian berfokus pada padi dan jagung melalui inisiasi program pemerintah daerah. Program tersebut dinilai telah berhasil meningkatkan kegiatan produksi, namun masih menghadapi persoalan dalam mobilisasi hasil panen dari kampung menuju kota.

“Program padi dan jagung sebenarnya sudah berhasil dan masyarakat bisa menghasilkan panen. Yang menjadi kendala adalah dukungan setelah panen, terutama bagaimana hasil tersebut bisa dimobilisasi dari desa ke kota untuk dipasarkan,” kata Paskalis.

Selain kedua kelompok tersebut, tim juga memperoleh informasi mengenai Kelompok Tani Yuruf I Balaweya yang diketuai Emos. Kelompok yang berdiri sekitar tahun 1990 itu sebelumnya berfokus pada kakao dan pinang. Kelompok tersebut sempat memperoleh bantuan bibit, tetapi aktivitasnya kemudian tidak berjalan sejak sekitar tahun 2000 akibat kepengurusan yang tidak aktif dan keterbatasan anggota usia produktif.

Berbagai informasi yang disampaikan kelompok tani menunjukkan bahwa Kampung Yuruf memiliki potensi pertanian yang beragam, tetapi pengembangannya masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keberlanjutan kelembagaan kelompok tani hingga akses dan mobilisasi hasil produksi.

Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan tim mengenai pemetaan komoditas unggulan kawasan dan kebutuhan konektivitas. Pemetaan tidak hanya diarahkan untuk mengetahui jenis komoditas yang dihasilkan masyarakat, tetapi juga melihat lokasi produksi dan hubungan antara sentra produksi dengan jalur transportasi serta lokasi pemasaran.

Melalui FGD tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro berupaya membangun proses kajian yang partisipatif dengan menempatkan masyarakat sebagai sumber informasi utama mengenai kondisi dan potensi kawasan.

Kolaborasi antara tema penguatan kelembagaan ekonomi berbasis potensi lokal dan penyusunan prioritas pembangunan jaringan jalan diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kebutuhan Kampung Yuruf. Hasil pemetaan tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi untuk mendukung pengembangan komoditas lokal, memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat, serta meningkatkan konektivitas dari wilayah produksi menuju pasar. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *