Legenda Persipura Prihatin dengan Nasib Pemain Sepak Bola Tanah Air

  • Whatsapp
Mantan pemain Persipura Jayapura Jack Komboy/Istimewa

JAYAPURA, FP.COM – Tak kunjung ada restu dari aparat Kepolisian membuat PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dan PT. Liga Baru Indonesia (LIB) terpaksa kembali menunda kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020. Hal ini menyebabkan nasib kompetisi sepakbola di tanah air itu kini tak lagi jelas ujungnya. Kabar terakhir, Liga 1 dan 2 akan bergulir pada Februari tahun depan, tapi masih sekadar wacana.

Mantan pemain bertahan sekaligus legenda hidup Persipura Jayapura, Jack Komboy, turut berkomentar mengenai carut marut persepakbolaan Indonesia kini.

Read More

iklan

Menurutnya, pihak PSSI selaku federasi sepak bola tertinggi di tanah air serta PT. LIB)sebagai operator kompetisi liga harus berkaca dari negara-negara lain yang tetap menjalankan kompetisi sepak bolanya meski di tengah situasi masa pandemi Covid-19.

Ketidakjelasan soal kelanjutan kompetisi ini, olehnya, justru membuat beban klub peserta semakin banyak, termasuk masalah finansial dan kontrak pemain. Pasalnya, beberapa klub sudah mempersiapkan semuanya.

“Saya rasa kalau soal prosedur tetap (protap) pastinya semua sama karena di bawah naungan FIFA dan AFC. Jadi, menurut saya harus kompetisi tetap berjalan,” ujar Jack Komboy kepada awak media, Senin (16/11/2020).

Sebagai mantan pemain sepak bola profesional, dirinya juga menyayangkan atas penundaan kompetisi ini.

“Pilkada saja bisa jalan, seharusnya kompetisi sepak bola juga bisa kembali dilanjutkan. Padahal sudah ada komitmen, kompetisi dilanjutkan tanpa penonton,” sesalnya.

Atas penundaan kompetisi ini, pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Papua turut prihatin atas nasib para pemain. Apalagi kalau bukan soal finansial.

Setahunya, demi menafkahi keluarga tak sedikit pemain yang rela turun kasta, bermain di kompetisi antarkampung (tarkam). Ada pula yang banting setir jadi pemain futsal.

“Saya dapat informasi kalau banyak pemain profesional yang terpaksa ikut kompetisi tarkam demi membantu perekonomian akibat tidak adanya kompetisi. Saya harap masalah ini jadi pertimbangan federasi,” tambahnya. (Ray)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *