Martha Ohee, Srikandi Khombouw dari Asei Besar

Mama Martha Ohee, pelukis perempuan pertama kulit kayu khombouw dari Pulau Asei Besar/Merrit

Masyarakat Pulau Asei Besar di Sentani, Kabupaten Jayapura, rata-rata punya keahlian khusus: seni melukis di atas kulit kayu. Kulit kayu yang digunakan tidak sembarang, hanya dari pohon khombouw yang hanya tumbuh di hutan suku itu.

Read More

Motif dari lukisan-lukisan karya mereka tak jauh-jauh dari kehidupan masyarakat kampung, dari perahu, ikan, perabotan, dan sebagainya. Kesenian ini merupakan warisan kebudayaan nenek moyang mereka turun temurun, dan kini menjadi ikon kampung, dikerjakan semua lapisan: muda, tua, pria dan wanita.

Tak banyak yang tahu, jika dulunya, pekerjaan melukis ini hanya bisa dilakukan oleh kaum pria, sementara, kaum hawa sama sekali tidak dibolehkan. Itu sudah ketetapan adat. Masyarakat percaya, bila aturan itu dilanggar, alamat sesuatu yang buruk akan datang.

Tradisi itu kemudian meluntur di sekitaran akhir tahun 80-an. Adalah sosok perempuan bernama Martha Ohee yang tampil sebagai pendobrak. Hebatnya, Martha melakukannya di usia belia, baru lulus dari sekolah menengah atas, tahun 1986.

Perempuan yang kini berusia 56 tahun ini berkisah kepada Fokus Papua di kediamannya, akhir Januari lalu. Ia berkisah, seperti kebanyakan perempuan kampung lainnya, ia sendiri punya kesibukan sebagai penjala ikan. Sementara ayahnya, bersama kaum pria lain, bekerja sebagai pelukis kulit kayu khombouw. Oleh ayahnya, Martha hanya diperkenankan membantu memberi warna pada lukisan.

“Kita sebagai anak perempuan hanya mewarnai saja. Kalau untuk mengukir tidak bisa,” tuturnya.

Masa itu, kerajinan kulit kayu cukup diminati turis Eropa. Jadilah Kampung Asei Besar tempat berburu koleksi lukisan para turis. Selain dijual di kampung, hasil kerajinan masyarakat juga dipasarkan di Museum Loka Budaya Abepura.

“Jadi, dulu Mama dayung (perahu) dari kampung, bawa kulit kayu yang bapa dorang bikin, pi taruh di Taman Loka Budaya, tinggal sampai satu dua minggu. Kalau sudah laku satu lembar baru dong kabar ke kampung, atau saya sendiri yang cek.”

Sebagai gadis yang beranjak dewasa, Martha mulai memikirkan masa depannya yang tidak lanjut kuliah. Timbul pula rasa iba kepada ayahnya yang sudah renta. Lagian, ia juga tak mau bergantung kepada suaminya bila sudah menikah. Untuk itu, Martha hanya memikirkan satu hal: menggantikan ayahnya melukis!.

Tekat Martha jelas ingin melawan tradisi. Bukan perkara gampang, risikonya berat. Menurut tahayul, perempuan lajang yang melukis kulit kayu, kelak, anaknya akan mengalami kecacatan.

Namun, niat Martha sudah bulat. Ia kemudian masuk ke hutan, mencari pohon khoumbouw. Setelah menebang, ia memikul batang kayu besar itu ke kampung. Itu teknik agar kulit kayu tidak cepat rusak.

“Sampai bahu terkelupas, itu pikul dari dalam hutan keluar,” kenang penyuka rambut pendek ini.

Usai merampungkan lukisan pertamanya, tak ada kejadian aneh yang menimpa keluarga Martha. Pun, ketika Martha telah membina rumah tangga. Yang jelas, sejak peristiwa itu, banyak srikandi seni lukis lahir dari Asei Besar.

***

Selain untuk kanvas lukis, menurut Mama Martha, dulunya, kulit kayu biasa digunakan untuk membalut jenazah dan juga sebagai bahan pakaian yang dalam bahasa setempat disebut malo.

Motif lukisan pada pakaian punya makna sendiri, menandakan tingkatan kasta seseorang.

“Misalnya, untuk ondoafi itu punya motif sendiri, jadi tidak bisa sembarang orang pakai motif itu, ada tingkatannya,” jelas Mama Martha.

Enrico Kondologit dan Ishak Stevanus Puhili (2015), dalam buku berjudul Khombouw,  menulis bahwa pada masa lalu, sebagai pakaian, kulit khombouw hanya digunakan 3 (tiga) kali dalam kehidupan, yaitu: pada waktu lahir untuk membungkus bayi, saat seorang perempuan menikah, dan ketika seseorang meninggal dunia.

Seiring perkembangan zaman, kulit kayu sebagai pakaian telah ditinggalkan oleh masyarakat Pulau Asei Besar. Tinggallah kesenian melukis.

Meskipun tak percaya mitos, namun Martha tak memungkiri ada hal unik tentang kayu khombouw yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

“Waktu kita mau pengambilan kayu jangan pada bulan sabit, percaya tidak percaya tapi Mama kitong sendiri sudah saksikan. Kalau kita ambil waktu bulan sabit, itu ketika kita tumbuk semuanya hancur, baru mau ketok saja langsung hancur.”

“Jadi kitong biasa tunggu sampai bulan sudah bulat itu baru kitong pergi ambil kayu di hutan, kalau bulan purnama, itu nanti de pu kayu bagus sekali,” akunya.

Dari sisi spiritual, masyarakat percaya, itulah waktu di mana Tuhan menyediakan bahan baku dan memberikan waktu untuk mereka bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang sudah ada.

“Bersyukur sambil menjaga alam itu sendiri,” tukasnya.

Ada lagi, layaknya tumbuhan endemik, pohon khombouw enggan tumbuh di tempat lain. Seperti, ketika suatu waktu, pemerintah mencoba menanam 100 pohon di Kalkhote.

“Trada satu pun yang tumbuh, dia (khombouw) memilih tumbuh sendiri.”

“Memang unik, kitong kalau pergi tebang di hutan, nanti sebulan, kitong datang lagi, ada lagi pohonnya di situ,” aku Martha.

***

Mengolah kulit kayu khombouw menjadi kanvas atau keperluan lainnya butuh proses kurang lebih seminggu. Batang pohon khombouw yang dibawa dari hutan diletakkan pada tempat yang teduh, didiamkam selama satu sampai dua hari hingga getahnya kering.

“Kalau sudah kering, baru dikuliti dan ditumbuk,” kata Mama Martha.

Teknik menumbuknya pun tidak asal-asalan, tidak boleh lurus, harus serong agar tidak pecah. Setelah ditumbuk, kemudian dijemur di bawah terik matahari.

Sah jadi seniman kampung, Mama Martha membuat terobosan dengan kreasi tas, noken, topi ikat, hingga taplak meja. Itu setelah dia mengikuti pelatihan dari pemerintah provinsi di Balai Latihan Koperasi, Angkasa, Jayapura Utara, sekitar tahun 90-an.

Namun, akibat pemasaran yang terbatas, hanya di kampung, penghasilan Mama Martha tidaklah seberapa. Sempat pula ia menyerah, ganti profesi sebagai penjual pinang.

Martha Ohee menunjukkan kreasi barunya

Lahirnya Festival Danau Sentani tahun 2007 mengubah segalanya. Tiga hari pameran, dagangannya ludes terjual. Mama Martha berhasil meraup fulus 13 juta rupiah.

“Itu uang sangat besar buat saya. Festival diadakan lima hari, tapi tiga hari saja mama pu produk su habis.”

Karya-karya yang lahir dari tangan terampilnya membawa Martha dipertemukan dengan Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun 2011.

Martha menjemput Linda tepat di tangga pesawat. Ia lalu digandeng Linda ke ruangan VIP Bandara Sentani.

Sayangnya, ia tak punya foto kenang-kenangan dengan sang menteri. Sebagai gantinya, ia memamerkan sebuah kulit kayu berbingkai, di atasnya tertera tulisan tangan dan tanda tangan sang menteri.

Benda kebanggaannya itu merupakan salah satu penghias dinding ruangan tamu, dipajang bersama sederet penghargaan yang pernah diterimanya.

Prestasi yang cukup prestisius pernah ditorehkan Martha bersama kerabatnya, Agus Ohee, adalah lukisan di atas kulit kayu sepanjang 100 meter pada gelaran Festival Danau Sentani 2014. Lukisan itu dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

Masih di tahun yang sama, atas sponsor dari salah satu bank negeri, ia bersama suaminya, Jackson Kere, mengikuti pameran ke sejumlah negara, seperti Belanda, Jerman, Australia, Amerika Serikat dan Papua Nugini.

“Yang ke Papua Nugini dalam rangka satu tahun kepemimpinan Bapak Gubernur Lukas Enembe.”

Usaha Mama Martha sekarang ini telah berbuah. Ia punya galeri bernama Kalkhothe Permai di Kampung Asei. Di sini, ia mempekerjakan kurang lebih 20 orang, mayoritas mama-mama janda dari Asei. Mereka terus berkreasi membuat produk baru semisal kartu ucapan seharga Rp5000, hingga painting wajah yang dibandrol lima juta rupiah.

Tahun 2017, galerinya mencatat penjualan fantastis, hampir satu miliar rupiah. Ia bersyukur bisa menjadi saluran berkat buat orang lain.

Benda kenangan Martha bersama Linda Gumelar (kiri) dan piagam dari MURI untuk lukisan kulit kayu terpanjang (kanan)

Di akhir wawancara, Mama Martha berharap pemerintah lebih memperhatikan para pekerja seni dan menggiatkan promosi karya-karya mereka.

Sekarang ini, ia belum melihat peran aktif pemerintah dalam mengembangkan potensi masyarakat. Para pekerja seni jarang dilibatkan dalam program.

“Pemerintah tidak bisa kirim kita seperti perbankan. Yang ada, (pemerintah) hanya ambil kita punya produk saja (untuk pameran). Kalau ditanya, cara buatnya bagaimana? Memangnya dorang (pemerintah) bisa?”

“Kasih kesempatan mereka pameran!” pungkasnya. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *