DOSAI,FP.COM – Di bawah langit Dosai yang teduh, Sabtu (11/4/2026), suasana hangat menyelimuti ratusan orang yang berkumpul dalam balutan rindu. Di tengah kerumunan itu, sosok pria dengan sorot mata tegas namun tampak rileks, berdiri membagikan sebait kisah lama. Ia adalah Komjen Pol (Purn) Matius Derek Fakhiri, Gubernur Papua.
Namun, hari itu ia tidak sedang berbicara sebagai penguasa wilayah. Ia hadir sebagai seorang “anak sekolah” yang pulang ke rumah besarnya: Ikatan Alumni SMP YPPK Santo Thomas Wamena.
Dalam refleksi yang mendalam di sela perayaan Paskah dan Retret Alumni, Fakhiri membawa hadirin kembali ke masa puluhan tahun silam di Lembah Baliem. Sebuah masa di mana fasilitas pendidikan hanyalah kemewahan yang jauh dari kata cukup. Namun, di balik dinding-dinding sekolah yang sederhana di Wamena itulah, karakter seorang jenderal dan pemimpin sedang ditempa.
“Saya tidak akan pernah berdiri di posisi ini tanpa didikan yang saya jalani di sana. Santo Thomas Wamena adalah fondasi saya,” ungkap Fakhiri dengan nada suara yang bergetar penuh kesungguhan.
Bagi Fakhiri, keterbatasan di masa lalu bukanlah penghalang, melainkan kawah candradimuka. Ia mengenang bagaimana kedisiplinan dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan para guru di SMP YPPK Santo Thomas menjadi kompas bagi kariernya yang cemerlang di kepolisian hingga kini memimpin tanah Papua.
“Lihatlah hari ini,” ujarnya sambil memandang rekan-rekan sejawatnya. “Justru dari keterbatasan itulah lahir pribadi-pribadi tangguh yang kini berdiri di garis depan pembangunan Papua.”
Fakhiri menyadari bahwa kesuksesan para alumni bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan hutang budi kepada almamater. Ia tidak ingin organisasi alumni hanya menjadi ajang reuni semata, melainkan mesin penggerak perubahan bagi generasi muda Papua.
Ada gurat harapan yang ia titipkan. Fakhiri meminta ikatan alumni dikelola secara profesional untuk membuka ruang kolaborasi bagi kemajuan daerah. Namun, yang paling mendasar bagi Gubernur Fakhiri adalah peran sebagai kompas bagi adik-adik kelas mereka yang kini masih duduk di bangku sekolah.
“Jangan lupakan akar. Jadilah mentor dan inspirasi bagi mereka yang sedang berjuang di almamater kita,” pesannya dengan penuh penekanan.
Pertemuan itu berakhir dengan jabat tangan erat dan tawa lepas khas anak-anak Lembah Baliem. Bagi Matius Fakhiri, momen di Dosai hari itu adalah sebuah pengingat: setinggi apa pun seorang putra daerah terbang, ia akan selalu mendarat di titik nol—tempat di mana mimpi-mimpinya pertama kali dirajut.
Santo Thomas Wamena bukan sekadar nama sekolah dalam ijazah tua miliknya; ia adalah identitas, prinsip, dan kekuatan yang terus menuntun langkahnya mengabdi untuk Bumi Cendrawasih. (AiWr)


