Tulisan De Javasche Bank (DJB) Education Centre pada sebuah papan menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk ke Museum Bank Indonesia di Jalan Garuda, Surabaya. Kunjungan edukatif ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua bagi para pemenang Lomba Karya Tulis Jurnalistik.
Alfonsa Wayap, jurnalis asal Papua yang keluar sebagai Juara I dalam ajang tersebut, berkesempatan melihat langsung peradaban bank sentral Indonesia. Bagi para jurnalis Papua, kunjungan ini bukan sekadar melihat benda-benda peninggalan masa lalu yang tak lagi berfungsi, melainkan mengintip relevansi sejarah panjang perbankan—mulai dari Surabaya hingga kiprah Bank Indonesia di Tanah Papua.
Lomba karya tulis itu sendiri mengusung isu strategis mengenai stabilitas harga, pengendalian inflasi daerah, peran BI dalam pengedaran uang Rupiah hingga daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta penguatan UMKM lokal dan digitalisasi pembayaran di Papua.
Siang itu, Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, suasana museum tampak hidup. Seorang pemandu museum bernama Rizky Jayanto memaparkan sejarah panjang Bank Indonesia kepada 11 peserta yang terdiri dari wartawan dan pimpinan redaksi.
Berbekal pengeras suara, Rizky memulai penjelasannya sembari menunjuk ke arah lantai.
“Di bawah sini ada ruang khusus penyimpan air. Dulu belum ada kulkas, orang Belanda biasa menyimpan air secara alami agar sejuk, dingin, dan siap diminum. Kondisi itu juga dipengaruhi oleh rindangnya pepohonan di sekeliling kantor ini,” ujarnya.
Dari ruang ke ruang, para peserta diajak menelusuri jejak fisik gedung De Javasche Bank. Mata pengunjung disuguhi brankas tua berlapis besi tebal berpintu kuning dan berbodi hitam yang dikelilingi baut-baut berukuran besar—sebuah pertahanan finansial masa lalu yang kini terkunci mati.
Di dua sisi lorong, terpajang cermin berukuran besar. Satu diletakkan lurus dengan pintu masuk utama, sementara di lorong sebelah kiri, sumber cahaya alami datang dari atap transparan yang dirancang memantulkan bayangan ke kaca depan.
“Kalau ada orang yang masuk, petugas bank bisa langsung melihatnya dari kaca depan. Inilah model kamera pemantau atau CCTV di zaman dulu,” jelas Rizky.
Melangkah lebih jauh, peserta memasuki ruang penyimpanan mesin penghitung uang kertas dan logam, hingga mesin pemotong uang tak layak edar. Etalase-etalase kaca tertutup rapat menampilkan koleksi mata uang dari masa ke masa, mulai dari Yen (Jepang), Gulden (Belanda), hingga Rupiah (Indonesia).
Di ruang lainnya, terdapat komputer berukuran besar dan deretan laci memanjang sesuai kode bank. Rizky menjelaskan bahwa pada masa itu, sebelum uang diedarkan, nomor kode dan nama bank harus dipastikan terlebih dahulu melalui sistem pencatatan tersebut.
Perhatian jurnalis juga tertuju pada sebuah kursi lapuk dari tali rotan dan kayu keras yang dulunya tempat istirahat Direktur De Javasche Bank. Rancangannya dibuat khusus agar sang direktur bisa meluruskan kaki ke ujung gagang kursi yang lancip sehingga sepatunya terlepas sendiri tanpa bantuan tangan.
Kehadiran gedung De Javasche Bank di Surabaya memiliki sejarah panjang. Berpusat di Batavia (Jakarta), kantor cabang Surabaya (Soerabaija) yang dirancang arsitek asal Amsterdam ini resmi beroperasi pada 14 September 1829 dan menjadi salah satu gedung paling bergengsi di zamannya.
Di lantai dua gedung, terpasang foto hitam-putih yang mengabadikan dinamika kota Surabaya masa lalu: lalulintas becak, sepeda motor, dan mobil di depan Toko Metro. Narasi foto tersebut menegaskan peran Surabaya dan Jawa Timur sebagai penyangga ekonomi bangsa.
Sejarah mencatat, De Javasche Bank didirikan pada 1828 sebagai bank sirkulasi pertama Hindia Belanda dengan pimpinan bergelar Presiden. Presiden pertamanya adalah Mr. C. de Haan (1828–1838). Sebanyak 16 orang berkebangsaan Belanda tercatat pernah memimpin bank ini.
Proses peralihan menuju bank sentral nasional dimulai pada 19 Juni 1951 saat pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB. Pada 3 Agustus 1951, saham DJB di Bursa Efek Amsterdam berhasil dibeli oleh Pemerintah Indonesia.
Puncaknya, melalui UU Nomor 11 Tahun 1953, DJB resmi bertransformasi menjadi Bank Indonesia—bank sentral milik penuh Republik Indonesia. Jabatan pimpinan berganti dari Presiden menjadi Gubernur Bank Indonesia, dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai Gubernur BI pertama (1953–1958).
Jejak sejarah bank sentral ini memiliki keterkaitan erat dengan dinamika di wilayah timur Indonesia. Kantor Perwakilan Bank Indonesia pertama di wilayah Papua didirikan di Kota Baru (sekarang Jayapura) pada 13 Desember 1962, berlokasi di Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 9, Gurabesi, Jayapura Utara.
Melalui catatan perjalanannya di Surabaya, Alfonsa Wayap menyampaikan apresiasi mendalam kepada Perwakilan BI Provinsi Papua yang telah memberikan ruang edukasi sejarah ini. Perjalanan dari Jayapura ke Surabaya memberikan pemahaman utuh mengenai akar peradaban perbankan di Indonesia.
Mengakhiri lembaran catatannya, Alfonsa mengibaratkan Bank Indonesia sebagai “Mama Uang”—hulu tempat uang Rupiah diproduksi dan dilahirkan, sebelum akhirnya didistribusikan hingga ke pelosok negeri dan pelosok Papua sebagai alat tukar yang sah. (Alfonsa Wayap)


