Perunggu dari Bulutangkis Beregu Putri, Ketua Pengprov PBSI Papua: Prestisius!

  • Whatsapp
Tim Bulutangkis Putri Papua foto bersama manager yang juga Ketua Pengprov PBSI Papua, Max Olua usai menerima medali perunggu, Sabtu (9/10/2021)/Syahriah

JAYAPURA, FP.COM – Ketua Pengurus Provinsi Papua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia Papua yang juga manager tim bulutangkis putra dan putri Papua PON XX, Max Olua, memuji penampilan para pemainnya meski hanya meraih medali perunggu dari nomor beregu putri. 

Read More

iklan

iklan

“Ini sesuatu yang prestisius, luar biasa, PBSI seluruh Indonesia angkat jempol dengan prestasi Papua, karena kita tahu Bulutangkis di Papua sangat langka, PON diadakan di manapun, yang masuk empat besar hanya tim dari pulau Jawa,” kata Max usai mendampingi atletnya menerima medali perunggu di GOR Waringin, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (9/10/2021). 

Sejak PON XX Papua dicanangkan empat tahun lalu, pihaknya telah membentuk tim untuk mencari atlet Bulutangkis asli Papua. Namun, tidak berhasil. 

Tak putus asa, Max pun memakai alternatif lain yaitu atlet yang lahir dan besar di Papua. 

“Suku apapun, tapi lahir dan besar di Papua, maka kita dapat mereka yang bertanding hari ini sebagai tuan rumah PON XX,” ucapnya.

“Meskipun hanya mendapat perunggu, tapi kita tidak gunakan atlet yang berlabel nasional, yang punya nama besar, yang instan, kami turunkan atlet sendiri karena kami ingin memberdayakan mereka yang sudah lahir dan besar di Papua,” sambung Max. 

Max mengungkapkan, sempat berpikir untuk mencari pemain yang telah siap bertanding, namun niat itu diurungkan lantaran ingin memberdayakan sumber daya manusia dari Papua.

“Pelatih atlet kami Endang Nursugianti seangkatan Rexy Mainaki, legenda bulutangkis Indonesia, 20 tahun berada di Jepang. Dia pelatih kepala Timnas Indonesia. Tapi saya sampaikan ke beliau, meskipun pelatih timnas, jangan bawa atlet dari luar Papua, karena kami ingin menjadi tuan dan nyonya di rumah kami sendiri selama PON berlangsung,” tuturnya. 

Hebatnya, menurut Max, persiapan timnya tergolong singkat, hanya enam bulan. 

“Saya sampaikan kepada mereka, target kita bukan emas, tapi buktikan bagaimana bisa berbuat yang terbaik sebagai tuan rumah. Dampak positifnya adalah bisa menggairahkan olahraga bulutangkis di Papua. Harapan kami ke depan, cabang olahraga ini bisa hidup di Papua seperti olahraga lainnya yakni sepak bola, futsal dan voli,” ucap Max. FPKontr1

KONI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *