JAYAPURA,FP.COM – Memasuki satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, pembangunan sektor kesehatan di Provinsi Papua diarahkan untuk menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Melalui peran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, pemerintah daerah berupaya memperkuat pelayanan berkeadilan, mengembangkan layanan unggulan, serta mempercepat kemandirian sumber daya manusia (SDM) kesehatan.
Plt Direktur Utama RSUD Jayapura, dr. Andreas Pekey, menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan daerah tidak semata diukur dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya anggaran, melainkan kemampuan pemerintah dalam melindungi kehidupan dan menjaga martabat masyarakat Papua.
“Otonomi Khusus harus hadir bukan hanya dalam angka anggaran, tetapi dalam kesempatan pasien memperoleh pertolongan, dalam martabat keluarga yang dilindungi, dalam layanan unggulan yang semakin dekat, dan dalam lahirnya dokter spesialis serta tenaga kesehatan profesional dari Papua,” ujar Andreas.
Sepanjang satu tahun terakhir, RSUD Jayapura mencatat telah memberikan bantuan pelayanan kesehatan gratis kepada ribuan masyarakat tidak mampu. Skema penjaminan ini menjangkau kelompok masyarakat yang belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan, peserta nonaktif, pasien tanpa dokumen kependudukan seperti KTP atau Kartu Keluarga, hingga kasus kegawatdaruratan medis tertentu.
Bantuan penanganan medis yang telah terealisasi meliputi tindakan berbiaya tinggi, seperti pemasangan alat pacu jantung permanen bagi pasien atrioventricular block (AV block), pembuatan akses vaskular Cimino untuk pasien hemodialisis, penyediaan obat imunoglobulin intravena (Gamaras) untuk penyakit Kawasaki, hingga penyediaan implan ortopedi.
Di samping itu, kata dr Andreas, RSUD Jayapura juga memprioritaskan penanganan kegawatdaruratan bagi korban kekerasan maupun kecelakaan. Seluruh tindakan medis darurat didahulukan sebelum penyelesaian kelengkapan administrasi dan verifikasi penjaminan. Pelayanan pemulasaraan jenazah turut diberikan sebagai bagian dari penghormatan nilai kemanusiaan, sosial, dan spiritual bagi keluarga yang berduka.
Untuk mengurangi ketergantungan rujukan medis ke luar daerah, RSUD Jayapura secara bertahap memperkuat jajaran layanan unggulan. Fokus pengembangan mencakup penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker dan radioterapi, bedah saraf, penyakit ginjal dan hemodialisis/ESWL, ortopedi, serta penanganan intensif (anestesiologi).
Peningkatan kapasitas medis di dalam daerah ini diharapkan dapat menekan beban biaya perjalanan dan pendampingan yang selama ini harus ditanggung oleh keluarga pasien saat dirujuk keluar Papua.
“Kita tidak hanya ingin masyarakat Papua dapat berobat tanpa terbebani biaya, tetapi kita ingin mereka memperoleh pelayanan yang aman, bermutu, dan berkelanjutan di tanahnya sendiri,” kata Andreas.
Untuk mengurangi ketergantungan rujukan medis ke luar daerah, RSUD Jayapura secara bertahap memperkuat jajaran layanan unggulan. Fokus pengembangan mencakup penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker dan radioterapi, bedah saraf, penyakit ginjal dan hemodialisis/ESWL, ortopedi, serta penanganan intensif (anestesiologi).
Peningkatan kapasitas medis di dalam daerah ini diharapkan dapat menekan beban biaya perjalanan dan pendampingan yang selama ini harus ditanggung oleh keluarga pasien saat dirujuk keluar Papua.
“Kita tidak hanya ingin masyarakat Papua dapat berobat tanpa terbebani biaya, tetapi kita ingin mereka memperoleh pelayanan yang aman, bermutu, dan berkelanjutan di tanahnya sendiri,” kata Andreas.
Sebagai rumah sakit rujukan dan pendidikan, RSUD Jayapura juga memacu pengembangan SDM jangka panjang. Langkah ini diwujudkan melalui pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis yang diawali dengan spesialisasi Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta peningkatan kompetensi tenaga kesehatan lainnya seperti perawat, bidan, dan tenaga kefarmasian.
Kebijakan afirmasi diberikan kepada Orang Asli Papua (OAP) melalui pemberian beasiswa, pembinaan akademik, dan perencanaan penempatan lulusan untuk mewujudkan pemerataan tenaga medis hingga ke wilayah terpencil.
Langkah-langkah strategis ini sejalan dengan kerangka visi pembangunan “Papua CERAH” (Cerdas, Sejahtera, dan Harmonis).
Penguatan tata kelola rumah sakit turut didukung oleh transformasi digital melalui sistem Gerbang Cerah Papua (Gercep) Smart Hospital RSUD Jayapura guna memastikan efisiensi, transparansi pembiayaan dana Otonomi Khusus dan BLUD, serta akuntabilitas pelayanan publik. (*)


