Sekolah ini dekat Kantor Bupati, tapi kondisinya memprihatinkan

Martha Marandei, guru SD Negeri Inpres Waren II, ketika berada di salah satu ruang kelas yang atapnya sudah bolong, Kamis(21/9/2023).

WAROPEN,FP.COM – Enam tahun lagi ia akan pensiun, namun ada sesuatu yang mengganggu batinnya. Bangunan sekolah dan rumah guru yang menjadi teman hidupnya dalam pengabdian selama puluhan tahun itu dalam kondisi memprihatinkan.

Padahal bangunan sekolah ini ada dalam kota dan hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari Polres Waropen, bahkan tidak sampai satu kilometer dari kediaman Bupati dan Kantor Bupati Kabupaten Waropen.

Read More

Sekolah itu adalah Sekolah Negeri Inpres Waren II Kabupaten Waropen. Dari luar tampak biasa-biasa saja, tanpa pagar jadi anda yang melewati jalan itu bisa langsung melihatnya. Plafon beberapa ruang kelas rusak, terlepas bahkan ada yang bocor. Ketika turun hujan, salah satu ruang kelasnya akan tergenang air.

Bukan hanya ruang belajar, salah satu rumah guru yang berada di belakang bangunan ini juga mengalami rusak berat. Atapnya jebol, sehingga kita bisa langsung melihat langit biru, tapi juga lantai bertehel yang bergelombang dan terlepas, mulai dari ruang tamu hingga dapur.

“ Tidak mungkin untuk ditempati, jadi saya tinggal di rumah pribadi,” kata Martha Marandei, salah satu guru yang ditemui di sekolah itu, Kamis(21/9/2023). Persoalan itu sudah berulang kali disampaikan ke instansi yang mengayomi, tapi tak ada respon. “ Mereka sudah datang lihat, sudah foto, tapi begitu sudah,” ucap Ibu Guru Martha mewakili Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Waren II, Sefnat Refasi yang sedang izin ke luar daerah.

Kata Martha, sudah lima tahun kondisi sekolah dan rumah guru mengalami kerusakan berat. Ia dan kepala sekolah sudah berulangkali ke dinas menyampaikan persoalan ini, tapi tak digubris. Meski demikian, proses belajar mengajar tetap jalan seperti biasa, walau dengan kondisi seperti itu.

Sekolah yang memiliki 121 siswa dan 7 orang guru ini juga memiliki keterbatasan bangku dan meja belajar. Dalam satu kelas, siswanya bisa duduk berimpitan untuk mengikuti proses belajar. Ini tentu kondisi yang tidak nyaman.” Satu bangku dan meja itu bisa sampai tiga siswa. Ya, mau bagaimana lagi, proses belajar tetap jalan,” jelasnya.

Karena itu, guru 54 Tahun ini berharap, menjelang waktu pensiunnya yang tinggal 6 tahun lagi, ia ingin sekali melihat ada perubahan di sekolah yang telah memberikan makna dalam kehidupan diri dan keluarganya.” Ini sekolah yang ada dalam kota, jadi sayang sekali kondisi ini dilihat banyak orang. Saya dan guru-guru di sini jadi malu,” ucapnya. (AFP)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *