Tak Punya Instrumen Musik, Dua Grup Asal Towe Berjuang Tampil di Festival Band Merah Putih

Personel West Border Band usai "manggung"

SWAKARSA, FP.COM – Festival Band Merah Putih 2 mewarnai kemeriahan bulan kemerdekaan di Kabupaten Keerom tahun ini. Aksi unjuk gigi puluhan grup musik asal Keerom, Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura akan memperebutkan piala bergilir Bupati Keerom (Bupati Cup).

Bupati Keerom Piter Gusbager dan Forkopimda saat membuka lomba festival band merah putih.

Event dibuka oleh Bupati Keerom Piter Gusbager pada Senin (14/8/2023) sore di lapangan sepak bola Swakarsa, Kampung Asyaman. Menurut jadwal, babak final akan dipentaskan pada malam ini, Selasa (15/08).

Read More

Penelusuran awak Fokus Papua kemudian mengungkap sisi menarik dari perhelatan festival musik ini. Dari sekian banyak peserta, ada dua grup yang ternyata berasal dari pelosok Keerom, tepatnya Distrik Towe. West Border Band dari Kampung Niliti dan Namnel Band dari Kampung Bias. Keduanya berstatus pendatang baru. Tapi bukan soal itu mereka layak dipuji, melainkan bagaimana perjuangan sekelompok anak muda ini bisa berpartisipasi.

Kepada Fokus Papua, Komaris Kowai, pentolan West Border bercerita, demi mengikuti festival ini mereka harus rela menyewa studio milik Barapid Band di Polomo, Sentani. Ya, West Border yang digawangi Ismael Aisih (backing vocal), Noris Sikofre (gitaris), Cemis Biksi (backing vocal), Joshua Kowai (keyboard), Jerimaya Ariaro (basist), Orixs Ariaro (drummer), Alen Kowai, dan Komaris Kowai (vokalis) adalah sebuah grup tanpa instrument musik.

“Kita dengar informasi satu minggu lewat dari Keerom untuk konser di sini, kita belum pernah tampil dan ini baru pertama kali. Tapi kami berusaha untuk bisa datang ke sini.”

“Untuk satu jam kami sewa Rp 75 ribu di Sentani, di studio Barapit Band, jalan Polomo. Kami turun berlatih di sana sebelum tampil di panggung besar ini,” tutur Komoris Kowai.

Komoris dan koleganya menyukai music medley dan reggae, sayang semangat mereka terkendala di peralatan. Untuk itu pula Komoris menitipkan harapan kepada Bupati Gusbager kiranya dapat memberi solusi untuk kendala tersebut.

“Kami tidak punya alat band, jadi harapan kami untuk Bapak Bupati bisa bantu kami supaya kami juga bisa berlatih di kampung,” ujar Komoris yang berposisi sebagai vokalis ini.

Setali tiga uang, situasi yang sama juga dialami Namnel Band. Grup yang beranggotakan Yosep Kelaimi (vokalis), Agus Kelaimi (gitaris), Markus Yau (backing vocal), Timotius Ani (Keyboardist), Yohanes Kelaimi (keyboardist), Kornelius Ani (basist), dan Yakobus Kelaimi (drummer) juga bukan band mapan.

Berhubung berasal dari satu distrik dan saling kenal, maka antara West Border dan Namnel kemudian bersepakat untuk patungan menyewa studio di Polomo tadi. Tekad mereka hanya satu, tak boleh melewatkan kesempatan tampil di panggung megah yang didesain bak konser ini, apalagi ditonton langsung oleh bupati.

“Kami persiapan lagu ini satu minggu. Dan kami coba hafal lagu yang diberikan dan ini baru bagi kami tapi kami menyesuaikan saja”ujar sang vokalis Yosep Kelaimi.

“Kami bersyukur karena Bapak Bupati sudah buat kegiatan ini dan mengundang kami dalam rangka ulang tahun kemerdekaan kita. Dan kami bisa sampai dan tampil di sini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Gusbager.”

Harapan Yosep, event ini bisa digelar rutin setiap tahunnya, dan ia memastikan grupnya akan terus berpartisipasi.

“Kami butuh dukungan dan pembinaan. Mudah-mudahan Bapak Bupati bisa berikan kami alat khusus di Towe supaya kami juga bisa punya band dan kami bisa tampilkan bahwa kita juga bisa,” pungkas Yosep Kelaimi.

***

Bupati Keerom Piter Gusbager saat membuka Festival Band Merah Putih 2 mengatakan, generasi muda perlu diberi ruang untuk berkreasi dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Sebagai pemimpin daerah, dirinya berkomitmen mendukung kegiatan positif yang dilakukan remaja dan pemuda.

Di sisi lain, dia meminta generasi muda Keerom berani menggali talenta yang dimiliki. Salah satunya, melalui musik yang dapat menjadi wadah bagi para pemuda dalam mengekspresikan diri.

“Karena masa depan bangsa ada di tangan generasi muda yang berkarakter,” katanya.

“Saya senang ada anak-anak asli Keerom, band-band lokal Keerom, panggung ini untuk kalian,” sambung Gusbager.

Dirinya meyakini, event tersebut bisa memunculkan penyanyi atau band yang kelak mengharumkan nama Negeri Tapal Batas. Dia menyebut musik sebagai bahasa universal yang bisa diterima dan menyatukan semua kalangan. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *