(Bagian 2) Kisah Hidup Mena Robert Satya: Kecanduan Narkoba, Insaf, Lalu Jadi Penginjil

  • Whatsapp
Momen Mena Robert Satya dalam pelayanan ibadah/dok

Kurang lebih satu tahun enam bulan sudah Mena Robert Satya berkantor di Pasar Mama Papua, di jalan Percetakan, Kota Jayapura. Ia membawa misi Victory Outreach International yang ia bawa masuk Papua pada Maret 2020.

Read More

iklan

iklan

Selain dijadikan kantor, aula pada lantai IV gedung Pasar Mama Papua juga sebagai gereja. Nama gerejanya sesuai nama lembaganya, Victory Outreach, masih terhitung cabang dari Bandung. Ia berharap, setelah nanti mengikuti konferensi Victory Outreach se-dunia di Amerika Serikat, gerejanya berdiri sendiri.  Victory Outreach Papua.

Tidak sebatas gereja, aula lantai IV Pasar Mama Papua juga difungsikan sebagai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), membina dan mendidik puluhan anak-anak. Sebagian besar dari mereka adalah putra-putri pedagang di pasar itu.

Aksi Mena tidak melulu di dalam ruangan, ia juga turun ke sudut-sudut kota, menjangkau pekerja seks jalanan, anak-anak terlantar yang bermasalah dengan minuman keras, lem, yang sering diistilahkan “ana’-ana’ aibon”.

“Rata-rata mereka broken home,” kata Mena.

Mena juga rutin mendatangi sel tahanan dan lembaga pemasyarakatan. Ia datang menguatkan para tahanan, menjaga harapan mereka.

Kurun setahun lebih melakukan pendekatan, sudah ada sebelas anak yang dibaptis, empat di antaranya merupakan pecandu narkoba.

Mena Robert Satya saat pelayanan di sel tahanan

Steven Imbiri (34 tahun), ialah salah seorang di antara mereka yang sudah menjalani rehabilitasi. Steven sejatinya bukanlah pemuda sembarangan. Ia dulunya seorang pemain sepak bola profesional. Karirnya cukup mentereng. Melanglang hingga liga Malaysia, bermain untuk klub Petaling Jaya FC.

Steven juga pernah malang melintang di persepakbolaan domestic. Ia berlabuh di sejumlah klub tenar semisal PSIS Semarang, Bali United, dan Persela Lamongan. Ia juga pernah bergabung di PS TNI, klub milik militer,  Tentara Nasional Indonesia. Lantaran diminta masuk sebagai anggota TNI, ia pun cabut dari sana

“Waktu itu masih di Malaysia, ditelepon langsung sama Panglima TNI, Pakl Gatot (Nurmantyo), terus dijemput di Manila,” cerita Steven.

Selama berkarir sebagai pemain sepak bola, jika ukurannya fulus, hidup Steven cukup mapan. Isi koceknya lumayan dari nilai kontrak yang ia terima dari klub. Sayangnya, Steven lupa daratan. Ia suka glamour, foya-foya, mabuk-mabukan, hingga anak istri ditelantarkan.

Usia yang tak muda lagi membuat Steven kehilangan sentuhan. Ia memasuki masa pensiun, skill-nya hanya dilirik klub-klub lokal Papua. Sementara, gaya hidupnya tidak juga berubah.

Untung saja, suatu ketika, ia dikenalkan kepada Mena Robert Satya. Ia menjalani pemulihan. Sekarang ini, ia sudah hidup utuh dengan keluarganya. Bahkan ia dan istrinya aktif dalam pelayanan Victory Outreach. Ia didaulat sebagai leader worship.

“Saya bersyukur ambil keputusan untuk masuk ke Victory Outreach. Tuhan pasti punya rencana untuk saya dari dunia olahraga bisa masuk ke pelayanan ini. Saya mau dedikasikan hidup saya untuk Tuhan,” ujar mantan pemain Persewon Wondama ini.

***

Penjara bukanlah solusi bagi para pecandu narkotika (narkotika dan obat terlarang). Begitu pendapat Mena Robert Satya. Ia punya penjelasan dari pengalamannya bertahun-tahun mengunjungi sel tahanan hingga penjara.

Ia mengungkap fakta. “Di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Doyo, banyak saudara-saudara kita dari PNG (Papua Nugini). Kalau pun seratus (tahanan) keluar, besok seratus masuk lagi.”

Nah, menurut Mena, mereka yang bermasalah dengan narkoba mestinya dengan pendekatan religius. “Mereka butuh tempat untuk berjumpa dengan Tuhan. Seseorang bisa berhenti dengan narkoba, dengan miras di mana saja bisa. Tapi itu berapa lama kalau mereka tidak mengalami pengalaman berjumpa dengan Tuhan?.”  

“Pengalaman dengan Tuhan yang akan menyelamatkan dan mengubah hidup seseorang,” sambungnya.

Dengan maraknya kasus narkoba di Papua, khususnya di Kota Jayapura yang berbatasan langsung dengan PNG, Mena mengharapkan perhatian serius dari pemerintah terutama jalinan kerja sama dengan lembaga lain.

Desain Kawasan Gerbang Timur Papua

“Saya berharap kita bisa bekerjasama dengan Pemerintah. Cukup Pemerintah siapkan fasilitas saja, siapkan tempat, SDM (sumber daya manusia) kami sangat siap sekali untuk menolong.”

Mena menawarkan konsep rehabilitasi, dengan pendekatan religius seperti yang telah ia alami. Mewujudkan misinya itu, pihaknya tengah merencanakan pembangunan pusat rehabilitasi narkoba di bilangan Holtekamp, Kota Jayapura, di atas lahan seluas tiga hektar. Prosesnya masih dalam tahap awal, menunggu izin lokasi untuk alih fungsi lahan dari perkebunan ke pekarangan. Ia juga mengaku telah mengantongi rekomendasi dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Jayapura, Persekutuan Gereja-gereja se-Kota Jayapura, Asosiasi Pendeta se-Kota Jayapura, Sekretaris Daerah dan Walikota Jayapura.

Mena Robert Satya bersama keluarga/dok

Nantinya, di lahan tersebut, berdiri tidak hanya pusat rehabilitasi namun juga dilengkapi dengan menara doa untuk 52 denominasi gereja, perumahan, fasilitas olahraga, dan pusat bisnis. Kompleks yang diberi nama Gerbang Timur Papua itu dibangun dengan sokongan dari investor luar.

“Saya sedang siapkan beberapa hamba Tuhan ke Bandung, tinggal di rehabilitasi kami di sana beberapa bulan untuk belajar, bagaimana menangani anak-anak di dalam rehab. Saya titip mereka untuk di-training. Mereka bukan saja masuk di program tapi bagaimana mereka bisa menangkap visi Tuhan.”

***

Saat ini, Mena Robert Satya tercatat sebagai Ketua Persekutuan Gereja se-Distrik Abepura. Ia menjelaskan, gelar pendeta yang disematkan kepadanya merupakan lisensi dari Gereja Kristen Nazarene Jayapura. Ia sendiri tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah teologi. Pemahaman Alkitab ia peroleh di Victory Outreach Bandung ketika menjalani rehabilitasi akibat kecanduan narkoba.

“Satu kali dua puluh empat jam itu Bible study.”

Di tahun ini ia bersiap mengambil lisensi pastornya dari Victory Outreach Institute (Diveti) lewat kelas jarak jauh. (*)

KONI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *