Mama Ester, Kelinci IS Kijne, dan Kulit Kerang

  • Whatsapp
Mama Ester Kerewey/Foto: Lamek Rumkabu
PGBP

Pariwisata

Tangan keriputnya masih kuat melahirkan karya. Kulit kerang yang di mata orang kebanyakan dianggap sampah ia sulap jadi benda seni yang unik.

Di Kota Manokwari, ia cukup dikenal, biasa disapa Mama Rambut Putih, merujuk pada rambutnya yang semuanya sudah memutih. Ada pula yang memanggilnya Mama Ester, dari nama aslinya yaitu Ester Kerewey.

Read More

KONI

Bagian teras rumahnya yang terletak di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari dijadikan sanggar, diberi nama Mansinam Art. Di sinilah Mama Ester menelurkan karya-karyanya, berupa hiasan berbentuk anjing, kucing, kelinci, kasuari, bunga dinding, juga pigura.

Meskipun ada ragam bentuk yang bisa dibuatnya, namun satu yang selalu jadi favorit. Kelinci! Rupanya, motif kelinci punya cerita sendiri, tentu saja istimewa. Ia bertutur, kalau dulu, di tahun 1939, ayahnya berniat mengikuti sekolah pertukangan. Sayangnya, keinginan sang ayah tidak terkabul berhubung ketiadaan biaya. Akhirnya, ia pulang kampung.

Putus asa, ayah Ester kemudian mencoba “melamar” kerja pada keluarga Isak Samuel Kijne, misonaris terkenal itu. Di luar dugaan, Samuel Kijne justru bersedia membiayai pendidikan ayah Ester. Sebagai balasannya, ayah Ester ditugasi memiara dan merawat kelinci milik keluarga Kijne, selama dua tahun. Mereka sepakat.

Kisah itu tidak pernah Ester lupakan. Tak heran, ketika ia mulai berkreasi dengan kulit kerang, bentuk kelincilah yang pertama dibuat.

Sebenarnya, Mama Ester tak hanya mahir berkreasi dengan kulit kerang, ia juga menggunakan bahan alam lainnya seperti biji bitanggur.

Pekerja seni bukanlah profesi Mama Ester dari dulu. Sebelum ini, ia bekerja sebagai tenaga pendidik di Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Manokwari. Maklum saja, Ester dulunya lulusan sekolah guru zaman Belanda, Opleiding Doorps Onderwijzer (ODO). Ia terhitung guru pertama di YPK Manokwari.

Sebagai mantan guru, ia tidak hanya punya pengalaman menghadapi anak didik, namun juga mengenali lingkungan. Dari situlah ia terispirasi setelah melihat kulit kerang yang terbuang di sekitar pantai.

Perempuan kelahiran Roon, Kabupaten Teluk Wondama, 15 Agustus 1945, ini memulai usaha kerajinannya pada pada tahun 1992. Ester mengenang perjuangan awalnya yang tidak mudah. Saban hari, ditemani cucunya, ia harus berjalan kurang lebih delapan kilometer dari Kota Manokwari menuju pantai Aipiri. Tujuannya hanya satu, mengepul kulit kerang yang terbawa ombak ke bibir pantai. Sepulangnya, kulit kerang itu dibersihkan lalu dijemur sebelum dirangkai.

Dalam bekerja, Mama Ester tidak butuh banyak peralatan. Hanya lima menit, dibantu dua cucunya,  menggunakan lem tembak, gunting, cutter, dan pita emas, satu karya bisa kelar.

Seiring waktu, usahanya terus berkembang. Ia banyak mendapat oderan. Apalagi, harga yang ditawarkan tidak mahal. Hanya di kisaran lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah.

“Tanpa kemasan lima ribu, masuk kemasan sepuluh ribu,” jelas Mama Ester.

Untung saja, Mama Ester tak perlu lagi bersusah payah mencari kulit kerang, sebaliknya ia mendapat pasokan dari beberapa wilayah seperti Biak, Sorong, hingga Jayapura. Namun, jika bahan bakunya menipis, ia harus rela turun lapangan seperti dulu. Terkadang, ia juga berburu di pasar tradisional.

“Beli mentah, isinya dimakan, kulitnya dikumpul,” ujarnya.

Di usianya yang tak lagi muda dengan fisik yang kian renta, Mama Ester belum berpikir untuk berhenti berkreasi. Apalagi, ia tak ingin jadi beban bagi anak-anaknya. Di satu sisi, ia bisa menginspirasi generasi muda untuk terjun di dunia seni. Sehat terus, Mama. (*)

Kehutanan

GKI

Dinkes

Air

Covid

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *