Merintis Jalan Ekowisata di Sawe Suma

Diskusi bersama terkait ekowisata dan konsep sadar wisata yang disampaikan rombongan Disbudpar Papua bagi pengelola Ekowisata Hotep Sawe Suma (28/6/23)

SAWE SUMA, FP.COM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Papua berkolaborasi dengan WWF (World Wide Fund) Papua melaksanakan kegiatan uji coba paket wisata di Kampung Sawe Suma, Distrik Unurum Guay Kabupaten Jayapura.
Test tour itu digelar dua hari, Rabu dan Kamis (28-29 Juni 2023). Tim dipimpin pendamping kampung dari WWF, Denis Wakum. Dalam rombongan, selain kru Fokus Papua, ada juga Sekretaris Disbudpar Papua Amelia Ondikeleuw, Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Papua Napar Nyoman, staf pelaksana Jimmy Mehue dan Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Papua, Nicky Mehue.


Uji coba paket wisata ini merupakan bagian dari pendampingan dalam rangka peningkatan kapasitas pengelolaan dan pengembangan kampung ekowisata Sawe Suma. Cara ini, kata Denis, menjadi terobosan baru dalam pengembangan sektor pariwisata. Untuk mengetahui paket wisata laik dijual atau tidak.

Read More

“Paket ini terus kita lakukan uji coba untuk meningkatkan pemahaman dari pihak pengelolanya tentang apa itu ekowisata, bagaimana mereka bisa kembangkan itu sendiri. Tujuan besarnya itu dengan ekowisata menjadi pendapatan ekonomi bagi masyarakat lokal di sini,” ujar Denis.
Tak hanya itu, rupanya isu tentang illegal logging yang cukup tinggi menjadi perhatian WWF guna mengajak masyarakat tetap menjaga hutan dengan beralih ke ekowisata ketimbang merusak ekosistem hutan yang dapat diwariskan kepada anak cucu kelak.

“Mereka di sini lebih memilih bagaimana dia (masyarakat) bisa dapat pendapatan. Jadi satu jalan yang sering dilakukan adalah memberikan izin kepada orang dari luar untuk masuk ambil kayu dengan menebang hutan. Akhirnya kita kembangkan ekowisata ini supaya masyarakat tetap menjaga hutan untuk generasi berikutnya,” ujar Denis.


Kolaborasi bersama Disbudpar Papua ini, menurut Denis, diharapkan dapat menggugah hati Pemprov untuk memberikan dukungan bagi pengembangan ekowisata, utamanya meningkatkan semangat masyarakat pemilik hak ulayat dalam menjaga hutan sebagai paru-paru dunia dan identitas kelompok masyarakat penjaga hutan.

“Selama ini kami selalu dengan Dinas Pariwisata Kabupaten (Jayapura-red) saja, maka saat ini kami coba dengan Disbudpar Provinsi. Harapannya, Dinas Pariwisata Provinsi bisa mengetahui ada daya tarik wisata di Sawe Suma dan juga bisa diberikan dukungan,” tukas Denis.


Sekretaris Disbudpar Papua Amelia Ondikeleuw mengaku, pihaknya siap mendukung Kampung Sawe Suma sebagai objek wisata minat khusus pemantauan burung cenderawasih (bird watching-red).

“Kami datang hari ini membawa ketua HPI karena itu adalah mitra dan mereka yang akan menjual paket wisata. Kami juga akan memberikan dukungan dari sarana prasarana. Kami juga akan fasilitasi terkait dengan peningkatan kapasitas diri dari masyarakat melalui pelatihan dan penyuluhan sadar wisata,” ujar Amelia.


Bagi Amelia, dari 7 sapta pesona setidaknya 5 unsur sudah ada di masyarakat Sawe Suma yang secara administrasi menjadi gerbang masuk ke Kabupaten Jayapura dari Sarmi dan Mamberamo Raya.
“Kebersihan untuk halaman mungkin sudah bagus tapi di pinggir jalan utama rumput masih tinggi itu mungkin yang perlu dibenahi tapi kearifan lokal mereka sudah memberikan modal utama tinggal di poles pasti akan lebih baik lagi. Seperti tadi dikeluhkan warga terkait jaringan telekomunikasi. Mungkin tidak menguntungkan untuk masyarakat tapi bagi wisatawan yang ingin menikmati liburannya ini adalah satu keuntungan dia tidak terganggu dengan telepon,” sebut Amelia.


Di tempat yang sama, Ketua HPI Papua Nicky Mehue meminta masyarakat adat kampung Sawe Suma untuk mempertahankan daya tarik yang dimiliki kampung tersebut. Hal itu karena masyarakat adat setempat memiliki hutan yang masih asli dengan keanekaragaman hayati serta hewan endemik seperti dendolagus pulcherrimus (kangguru pohon). Belum lagi cenderawasih raja (cicinnurus regius) yang digadang-gadang hanya ada di hutan Sawe Suma.

“Di dalam bisnis trevel butuh kesabaran, yang penting hal-hal yang sudah ada jangan dirusak kemudian diubah. Hari ini kita jual paket wisatanya, mungkin tahun depan baru turis datang, tetap barsabar, karena di sini punya keunikan cenderawasih raja yang membedakannya dengan tempat pemantauan burung yang di Kabupaten Jayapura,” pungkas Nick. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *