OPINI: Anak Papua Harus Naik Kelas, Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

Dr. drg. Aloysius Giyai, M.Kes. bersama mahasiswa baru Unika Fajar Timur Papua Angkatan 2026/2027. Momen kebersamaan ini menjadi penyemangat bagi para calon pemimpin masa depan Tanah Papua untuk tidak hanya mengejar ijazah, tetapi melahirkan karya dan solusi nyata bagi masyarakat.

Oleh: Dr. drg. Aloysius Giyai, M.Kes

(Mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua & Ketua Yayasan STTK)

Read More

Memasuki bangku perguruan tinggi bukan sekadar berpindah status dari siswa menjadi mahasiswa. Ini adalah fase transisi krusial: dari seorang pembelajar menjadi calon profesional, serta dari penerima manfaat pendidikan menjadi pribadi yang kelak memberi manfaat bagi masyarakat.

Di tengah arus perubahan zaman, ada satu pijakan berpikir yang harus ditanamkan sejak hari pertama melangkah di kampus: Anak Papua harus naik kelas, dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.

Naik kelas yang dimaksud bukanlah sebatas merengkuh gelar sarjana, meraih jabatan mentereng, atau mengantongi penghasilan tinggi. Naik kelas adalah transformasi mendasar—naik dalam cara berpikir, naik dalam kapabilitas, naik dalam keberanian mengambil tanggung jawab, serta naik dalam kapasitas menciptakan dampak positif bagi sesama.

Sudah saatnya kita mengoreksi cara pandang terhadap pendidikan tinggi. Kuliah jangan lagi direduksi sekadar ritual berburu ijazah demi melamar pekerjaan. Perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka untuk membentuk manusia yang sanggup berpikir kritis, bekerja presisi, menciptakan solusi, memimpin, berwirausaha, dan mendedikasikan diri bagi tanah kelahirannya.

Selama ini, pertanyaan klasik yang kerap menghampiri para lulusan baru adalah: “Setelah lulus mau bekerja di mana?”

Pertanyaan itu tidak salah, tetapi bagi generasi muda Papua, saatnya mendengungkan pertanyaan yang lebih besar dan berani: “Setelah lulus, apa yang dapat saya ciptakan?”

Pergeseran pertanyaan ini menandai revolusi mental. Seorang pencari kerja berfokus pada cara mendapatkan kesempatan dan bertanya “Di mana ada lowongan?”. Sebaliknya, seorang pencipta kerja berfokus pada cara menghadirkan kesempatan dan bertanya “Masalah apa yang dapat saya selesaikan?”.

Kita harus realistis memeta masa depan. Selama berpuluh tahun, menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kerap mendominasi cita-cita sebagian besar lulusan di Papua. Pilihan tersebut tentu mulia bagi mereka yang memiliki panggilan mengabdi di jalur birokrasi. Namun, formasi pemerintahan memiliki batas yang nyata. Tidak semua sarjana dapat dan harus menjadi ASN.

Dunia kerja telah berubah secara eksponensial. Kampus harus membekali mahasiswanya dengan opsi spektrum profesi yang jauh lebih luas: menjadi konsultan, peneliti, inovator, pelaku usaha, pengembang teknologi, dan utamanya, pembuka lapangan kerja baru.

Oleh sebab itu, kewirausahaan (entrepreneurship) tidak boleh lagi diposisikan sebagai materi pelengkap. Entrepreneurship idealnya menjadi mata kuliah wajib yang berjalan linier dengan setiap disiplin ilmu:

  • Teknik Sipil & Arsitektur: Mahasiswa tak hanya piawai merancang, tetapi mampu membangun bisnis jasa konstruksi, konsultan properti, hingga pengelolaan infrastruktur.
  • Farmasi: Mahasiswa terpacu melahirkan riset berdaya guna, inovasi pelayanan, serta produk kesehatan berbasis potensi lokal yang konformis terhadap regulasi.
  • Akuntansi: Mahasiswa siap membuka kantor jasa akuntan publik, konsultan perpajakan, maupun pendamping manajemen keuangan bagi UMKM lokal.

Prinsipnya jelas: ilmu harus menjelma menjadi keterampilan, keterampilan melahirkan karya, karya hadir sebagai solusi, dan solusi menghasilkan nilai ekonomi serta lapangan kerja.

Untuk mendekatkan dunia akademik dengan realitas, orientasi tugas akhir mahasiswa pun perlu dikaji ulang secara serius. Kelulusan hendaknya tidak hanya diukur dari tumpukan berkas skripsi akademik, melainkan dari karya nyata, produk inovatif, proyek terapan, atau model bisnis yang teruji—tanpa mengesampingkan standar mutu pendidikan tinggi.

Namun, sebelum melangkah jauh mengelola usaha atau lembaga besar, setiap mahasiswa harus mampu menguasai dasar dari segala tata kelola: mengelola diri sendiri.

Penguasaan ini mencakup kedisiplinan mengelola waktu, energi, jaringan, hingga keuangan pribadi. Belajarlah memisahkan antara kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran prioritas, menghindari utang konsumtif, serta memahami arus kas. Seseorang yang gagap mengelola sumber daya kecil akan kesulitan saat dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

Di era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), anak-anak Papua dilarang sekadar menjadi penonton atau konsumen pasif. Teknologi harus ditunggangi untuk mempercepat proses belajar, mengolah data, dan melahirkan inovasi. Namun ingat, AI hadir untuk membantu kita berpikir lebih efisien, bukan menggantikan fungsi berpikir itu sendiri.

Lahir dan tumbuh di Papua bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan sumber kekuatan yang melimpah. Papua menyimpan kekayaan alam, akar budaya, dan ruang dinamika sosial yang membutuhkan berbagai solusi cerdas.

Generasi muda Papua boleh melanglang buana menimba ilmu, menguasai teknologi global, dan bersaing di kancah internasional. Namun, satu hal yang tidak boleh tanggal: berakar di Papua, berpikir nasional, dan berwawasan global.

Masa depan Papua 10 hingga 30 tahun mendatang—siapa yang akan memajukan sektor kesehatannya, mendirikan pusat pendidikannya, membangun infrastrukturnya, serta menggerakkan roda ekonominya—sepenuhnya berada di tangan generasi hari ini.

Jangan menunggu lulus untuk mulai berkarya. Mulailah dari langkah terkecil, berani mencoba, dan pantang takut gagal. Ubah cara pandangmu mulai hari ini: jangan tanya apa yang dapat Papua berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang dapat engkau ciptakan untuk Tanah Papua.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *