Pelindo Bantah Terjadi Penumpukan Petikemas LPG di Pelabuhan Jayapura

  • Whatsapp
Pelabuhan Jayapura

JAYAPURA, FP.COM – General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Cabang Jayapura Sonny Uktolseya membantah telah terjadi penumpukan petikemas berisi LPG di Pelabuhan Jayapura. 

Read More

Bantahan tersebut disampaikan Sonny melalui keterangan tertulisnya berkaitan dengan pernyataan Unit Manager Communication, Relations and CSR Marketing Operation Region (MOR) VIII Pertamina, Edi Mangun, di salah satu media online di Jayapura edisi Sabtu, 27 November 2021. 

“Tidak benar terjadi penumpukan, karena selama bulan November 2021 ini hanya 2 unit kapal yang mengangkut muatan LPG ke Jayapura yang diageni oleh pelayaran PT Temas Shipping,” kata Sonny, Senin (29/11/2021). 

Sonny menjelaskan, kapal pertama yang masuk ke Pelabuhan Jayapura adalah KM Belik Mas membawa 19 box kontainer ukuran 20 feet berisi LPG. Kapal tersebut, lanjut Sonny, masuk dan sandar di Pelabuhan Jayapura tanggal 16 November 2021, dan keluar tanggal 17 November 2021. 

“Kapal tersebut hanya melakukan kegiatan bongkar muat kurang lebih 24 Jam atau satu hari saja. Untuk seluruh petikemas yang dibongkar di hari yang sama 19 box kontainer LPG, langsung diantar ke pemilik barang,” ujarnya. 

Sonny menambahkan, kapal kedua yang masuk ke Pelabuhan Jayapura adalah KM Telaga Mas dengan membawa 18 box kontainer 20 feet berisi LPG, masuk dan sandar di Pelabuhan Jayapura tanggal 19 November 2021. 

“Seperti KM Belik Mas, KM Telaga Mas juga hanya sehari melakukan bongkar muat di Pelabuhan Jayapura. Seluruh petikemas yang dibongkar di hari yang sama 19 box kontainer LPG, langsung di-delivery ke pemilik barang,” akunya.

Sonny pun menegaskan, kalau 18 sampai 19 box kontainer hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu sampai dua jam untuk membongkarnya.

“Dari 18 dan 19 box kontainer LPG tersebut, setelah proses bongkar langsung keluar atau delivery ke pemilik barang, dari lapangan penumpukan petikemas di Pelabuhan Jayapura di waktu dan hari yang sama dan dilakukan oleh ekspedisi. Jadi tidak ada kontainer berisi LPG yang ditumpuk atau bermalam di dalam area pelabuhan,” jelasnya.

Tabung gas LPG, kata Sonny, merupakan jenis barang berbahaya, sehingga menjadi prioritas pertama yang harus langsung dikirim ke pemilik barang setelah dibongkar dari kapal. 

“Intinya, untuk barang – barang yang bersifat konsumsi masyarakat seperti sembako termasuk tabung LPG menjadi prioritas kami untuk dibongkar dan tidak menumpuk lama di Pelabuhan Jayapura,” tegasnya. 

Ia menambahkan, satu unit kontainer ukuran 20 feet biasanya membawa 223 tabung LPG ukuran 12 kilogram. Totalnya, ada 4.000 tabung LPG yang dibongkar dari 18 unit kontainer. 

“Sedangkan untuk tabung LPG 50 kilogram hanya dimuat dalam satu unit kontainer 20 feet sebanyak 52 tabung LPG untuk kebutuhan hotel dan restaurant,” kata Sonny. 

“Harapan saya, ke depannya, perencanaan pengiriman LPG ke Jayapura juga menjadi perhatian serius instansi terkait yang berkepentingan termasuk pemilik barang, jangan LPG sudah kosong baru menjadi berita,” kata Sonny. 

Dikutip dari Tirbunpapua.com, belakangan Pertamina menyebut keterlambatan distribusi LPG disebabkan antrean yang cukup lama dalam pembongkaran kontainer di Pelabuhan Jayapura.

Hal ini disampaikan Unit Manager Communication, Relations and CSR Marketing Operation Region (MOR) VIII Pertamina, Edi Mangun, Sabtu (27/11/2021).

“Kendalanya saat pembokaran, kita harus antre lagi di pelabuhan kontainer. LPG Ini pakai kontainer, jadi tidak masuk di dermaga Pertamina,” kata Edi.

Lantaran antre, lanjut dia, terkadang proses pembongkaran memakan waktu yang cukup lama.

“Kadang-kadang kapal sudah di Kayu Batu bisa tunggu sampai satu minggu, jadi ini salah satu faktor yang membuat sering terjadi keterambatan,” jelasnya.

Edi mengklaim, Pertamina selalu tepat waktu mendatangkan persediaan LPG hingga tiba di Pelabuhan Laut Jayapura.

“Tetapi secara stok, tetap aman,” tandasnya. FPKontr1

RS Abe

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *