Kemenparekraf Harapkan Kekayaan Alam dan Budaya Papua jadi Potensi Wisata yang Unggul

Foto Bersama Staf Ahli Gubernur(Batik-tengah) Hosea Murib, Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf RI, Alexander Reyaan (ketiga dari kanan), Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Papua, Boni Asso ( ketiga dari kiri), Kadis Pemuda Olahraga dan Kebudayaan kabupaten Keerom (kedua dari kanan) dengan Tim Tari dari Sanggar Seni Wangso Keerom

KEEROM, FP.COM-Guna meningkatkan kualitas Aparatur Sipil Negara(ASN) dalam memahami sektor ekonomi kreatif dengan mengedepankan inovasi, adaptasi kolaborasi dengan menggali potensi sumber daya yang ada di daerah. Rabu kemarin, 19 oktober 2022 dilaksanakan kegiatan pelatihan gerakan usaha kreatif bagi Aparatur Sipil Negara(ASN) di Provinsi Papua yang bertempat di salah satu hotel di Arso II Kabupaten Keerom.

Pelatihan ini dibuka oleh Gubernur Papua yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Otonomi Khusus Papua, Hosea Murib.

Read More

Dalam sambutannya, Gubernur mengharapkan agar kekayaan sumber daya alam dan budaya yang beragam diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian di daerah.

“Aktifitas ekonomi tradisional, sejarah dan budaya serta sajian kuliner lokal yang beragam merupakan sumber daya pariwisata yang potensial untuk dikembangkan yang bersifat Mass Tourism atau Alternative Tourism. Saya harapkan dengan adanya pelatihan ini mampu menghasilkan penguatan keterampilan yang berdaya saing,” tulis Gubernur yang dibacakan Hosea Murib

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, Alexander Reyaan. Peserta berjumlah 26 orang baik dari ASN di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Dinas Pariwisata Kota dan Kabupaten Jayapura serta Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan kabupaten Keerom.

Adapun materi kegiatan pelatihan ini meliputi, Kebijakan Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif, Kebijakan Ekonomi Kreatif di Provinsi Papua, Identifikasi Produk Ekonomi Kreatif sub sektor unggulan kuliner, dan Pengembangan Produk Kreatif sub sektor Seni Pertunjukan.

Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, Alexander Reyaan kepada Fokus Papua mengatakan, dari 17 subsektor ekonomi kreatif (kuliner, fesyen, kria, arsitektur, desain produk, desain interior, musik, seni rupa, periklanan, penerbitan, film animasi dan video, aplikasi, pengembangan permainan, TV dan Radio, serta seni pertunjukan) Kemenparekraf mengharapkan adanya subsektor unggulan di Papua yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat lokal setempat. Ia mencontohkan seperti kuliner, kria dan fesyen sebagai subsektor unggulan di Indonesia.

“Kita dari Kemenparekraf lakukan sosialisasi bagi ASN di Provinsi Papua bagi beberapa kabupaten/kota ini tujuannya untuk mensosialisasikan subsektor-subsektor ekonomi kreatif yang kita punya ada 17 subsektor, tapi setiap daerah ini beda-beda kondisinya. Melalui ASN ini diharapkan mereka nantinya bisa menjadi duta-duta bagi pelaku ekonomi kreatif orang asli disini.”

“Mungkin ada kuliner, kria lalu ada juga yang khusus di fashion nah itu yang kita memulai dengan sosialisasi ini, sebelum ke pelaku ekonomi kreatif yang di masyarakat lokal, kita mulai dari ASN di kabupaten/kota yang hari ini terlibat dalam sosialisasi,” sambung Reyaan.

“Dikondisikan dengan masing-masing daerah kan tidak mungkin semua punya 17 ini, mungkin ada yang unggul di kuliner, kria seperti itu dan sasaran kita tadi itu masyarakat lokal karena ini bagian dari mengangkat ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua yang diwakilkan oleh Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Boni Asso, mengharapkan adanya kesatuan persepsi dan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam membina dan melakukan pendampingan terhadap pelaku ekonomi kreatif di kabupaten/kota nantinya.

“Harapan kami, para aparatur yang dibekali hari ini bisa mendapatkan gambaran ekonomi kreatif itu sama mulai dari Provinsi hingga kabupaten/kota. Kemudian dengan itu kita bisa pakai untuk membina dan meningkatkan kemampuan para pelaku ekonomi kreatif yang ada di masing-masing kabupaten/kota. Kalau di Provinsi Papua dari 17 subsektor ini yang unggul di Papua itu kria, musik, tari-tarian. Dari 17 ini tentunya tidak harus semua ada di Provinsi Papua, tapi yang ada di masyarakat kita itulah yang kita kembangkan. Hari ini juga di Papua sudah mulai dengan membatik, itu juga tidak kalah penting, lalu painting juga, ada beberapa pelukis yang kami di Pemprov sudah bantu juga termasuk pemusik dan Mama-mama yang menganyam noken. Kami selama ini memberikan dukungan dalam bentuk barang supaya lebih dapat meningkatkan produktivitas para pelaku usaha ekonomi kreatif ini,” beber Boni Asso.

Lain halnya dengan kuliner, Boni menyebut meskipun kuliner di Papua begitu menarik namun pihaknya belum melihat kemasan kuliner Papua yang khas.

“Kuliner di Papua ini kan dari komunitas seperti yang kita punya kan Chato (Chef Charles Toto-red) paling terkenal tapi untuk restoran-restoran ini memang ada juga tapi kemasan yang didorong tidak ke khas Papua. Artinya, di dalam resto itu memang ada menu khas Papua tapi kan dikemas secara Nasional, ini nanti akan menjadi perhatian kita ke depannya,” pungkas Boni Asso. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *