Lewat Simulasi Water Rescue, Disbudpar Papua Dorong Kesiapsiagaan Darurat di Destinasi Wisata

Para peserta pengelola destinasi wisata pesisir dan danau se-Jayapura mendengarkan arahan dengan saksama dari instruktur Basarnas Papua sebelum memulai praktik simulasi water rescue di kawasan Pantai Hamadi, Jayapura. Pembekalan taktis ini merupakan bagian dari Kegiatan Pelatihan Peningkatan Keselamatan di Destinasi Wisata Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Disbudpar Papua demi mendorong standar baru keselamatan pariwisata daerah.

JAYAPURA,FP.COM – Sebagai wujud nyata dalam mendorong standar baru keselamatan pariwisata daerah, para peserta Kegiatan Pelatihan Peningkatan Keselamatan di Destinasi Wisata Tahun 2026 Provinsi Papua diterjunkan langsung untuk mengikuti simulasi praktis penyelamatan di air (water rescue). Latihan komprehensif pada hari kedua ini dipandu oleh tim ahli dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Wilayah V Jayapura.

Dalam simulasi tersebut, Basarnas menerapkan standar internasional yang terstruktur berdasarkan Prinsip Hirarki Penyelamatan di Air. Metode ini diajarkan kepada para pengelola destinasi wisata pesisir dan danau sebagai langkah konkret untuk membangun sistem kesiapsiagaan darurat yang mandiri dan cepat di lapangan.

Read More
Bertempat di pesisir Pantai Hamadi, para pelaku usaha destinasi wisata Jayapura menyimak penjelasan mendalam terkait Prinsip Hirarki Penyelamatan di Air yang dipandu oleh Basarnas Wilayah V Jayapura. Arahan matang sebelum simulasi ini sangat krusial guna memastikan setiap peserta memahami teknik Reach, Throw, Row, Go, dan Tow dengan benar dan aman sebelum diterapkan langsung di perairan.

Penata Kelola Pencarian dan Pertolongan Ahli Muda Basarnas Wilayah V Jayapura, Waluyo, menjelaskan bahwa penerapan water rescue ini terdiri dari lima tahapan keselamatan yang disusun secara sistematis, mulai dari tindakan yang paling minim risiko bagi penolong hingga langkah terakhir yang memiliki tingkat risiko paling tinggi terhadap keselamatan jiwa:

  • Reach (Menjangkau): Langkah awal jika posisi korban berada dekat dengan tepian seperti kolam, dermaga, pinggir sungai, atau kapal. Penolong wajib memastikan pijakannya kokoh di area aman tanpa masuk ke air, lalu menjangkau korban langsung dengan tangan atau menggunakan benda di sekitar yang bisa memperpanjang jangkauan seperti galah, kayu panjang, dayung, dan pakaian.
  • Throw (Melempar): Metode yang digunakan jika posisi korban berada di luar jangkauan tangan, namun penolong masih bisa melempar alat bantu apung dari area yang aman di darat. Penolong melemparkan alat penolong seperti ring buoy (pelampung ban), jeriken kosong tertutup, ban dalam kendaraan, atau throw bag (tas tali khusus SAR) setelah memanggil korban agar bersiap melihat arah lemparan.
  • Row (Mendayung / Menggunakan Perahu): Jika jarak terlalu jauh untuk dilempari alat dari tepian, penolong mendekati korban menggunakan sarana transportasi air seperti kapal kecil, perahu karet (rubber boat), kano, atau papan selancar. Ketika mendekat, penolong dilarang langsung melompat ke air, melainkan kembali menggunakan metode reach atau throw dari atas perahu untuk menaikkan korban.
  • Go (Berenang Mendekati Korban): Langkah darurat yang diambil jika ketiga metode di atas tidak memungkinkan atau gagal dilakukan. Penolong wajib berenang langsung menuju korban dengan membawa alat bantu apung seperti rescue tube atau pelampung untuk diberikan kepada korban. Penolong harus menjaga jarak aman dan menenangkan korban guna menghindari kontak fisik langsung yang membahayakan akibat kepanikan korban.
  • Tow atau Carry (Menarik / Membawa Korban): Metode dengan tingkat risiko tertinggi karena terjadi kontak fisik langsung di dalam air. Penolong harus berenang membawa atau menarik korban menuju ke tepian atau ke atas perahu yang aman. Karena bahaya yang tinggi, personel wajib menguasai teknik khusus seperti Defense (memblokir dekapan tangan korban yang panik) dan Release (melepaskan diri jika terlanjur didekap oleh korban seperti teknik front head hold atau rear head hold).

Di sisi lain, penguatan kesiapsiagaan darurat melalui simulasi water rescue ini disempurnakan oleh pembekalan teoritis mengenai pemahaman iklim dan cuaca yang telah dilaksanakan pada hari pertama pelatihan. Materi tersebut disampaikan oleh Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura.

Ketua Tim Meteorologi Publik BBMKG Wilayah V Jayapura, Finnyalia Napitupulu, menegaskan bahwa pemahaman akan dinamika cuaca merupakan fondasi utama dari sistem peringatan dini (early warning) di tempat wisata. Para pengelola destinasi dituntut jeli melihat perubahan alam karena karakteristik kerawanan di tiap medan sangat berbeda.

“Ancaman cuaca di kawasan pantai, danau, dan pegunungan akan berbeda-beda. Potensi ancaman inilah yang kami sampaikan secara detail kepada para pengelola sebagai langkah awal dari mitigasi bencana,” ujar Finnyalia.

Melalui sinergi pembekalan mitigasi cuaca dari BBMKG serta praktik langsung water rescue dari Basarnas ini, Disbudpar Papua berharap para peserta dapat menjadi agen yang aktif dalam membangun kesiapsiagaan darurat di kawasannya masing-masing. Langkah terstruktur ini diharapkan mampu mewujudkan ekosistem pariwisata Papua yang tidak hanya indah secara visual, namun juga memiliki standar keamanan dan kenyamanan yang tinggi bagi setiap wisatawan. (AiWr)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *