Menakar Dampak High Cost Economy bagi Penumpang di Pedalaman Yahukimo

Penerbangan Dekai-Wamena. Fofo: Alfonsa.

Tantangan ekonomi di Kabupaten Yahukimo nyatanya tidak berhenti pada urusan urat nadi logistik di perairan. Konektivitas udara, yang menjadi satu-satunya tumpuan tercepat mobilitas manusia dari dataran Dekai menuju ibu kota provinsi, menyimpan riak persoalan tersendiri. Di wilayah ini, keterbatasan armada dan ketidakpastian jadwal terbang berkelindan menciptakan fenomena high cost economy – ekonomi biaya tinggi – yang nyata dan mencekik dompet para penumpang.

Demi menyiasati lonjakan harga tiket pesawat yang kerap tidak menentu, kami dari Fokuspapua.com sebenarnya telah membekali diri dengan tiket pergi-pulang (PP) rute Jayapura–Dekai menggunakan maskapai Trigana Air. Untuk keberangkatan, kocek yang dirobek sebesar Rp1.244.800, sedangkan untuk rute kembali Dekai–Jayapura dipatok Rp1.265.000. Sebuah nominal yang sudah cukup tinggi bagi standar penerbangan domestik jarak pendek.

Read More

Sesuai jadwal, kami seharusnya terbang kembali ke Jayapura pada Senin, 15 Juni 2026. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Pada Minggu malam, 14 Juni 2026, tepat pukul 19.34 WIT, sebuah pesan singkat dari pihak maskapai mendarat di ponsel kami dengan nada dingin: “Penerbangan rute Dekai–Jayapura dibatalkan dikarenakan alasan operasional, sampai dengan waktu yang belum ditentukan.”

Meski pihak Trigana Air menyanggupi pengembalian dana (refund) secara penuh, pembatalan sepihak ini seketika menyalakan alarm kepanikan di Bandara Nop Goliat. Di pedalaman Papua, pembatalan terbang bukan sekadar perkara menunda waktu, melainkan awal dari efek domino ekonomi. Di sinilah hukum pasar bebas bekerja secara liar. Ketika ratusan penumpang terjebak dan berebut kursi yang tersisa di maskapai lain, harga tiket darurat langsung meroket tanpa kontrol.

Kami mencoba peruntungan membidik tiket pesawat Dimonim Air. Di hari normal, harga tiketnya berada di kisaran satu juta rupiah lebih sedikit. Namun, ketika kami menanyakan ketersediaan kursi di tengah situasi genting tersebut, seorang petugas bandara bernama Don menggeleng pelan sembari menyodorkan angka baru yang fantastis.

“Harganya dua juta lima ratus ribu rupiah,” ujar Don datar.

Tarifnya melompat lebih dari dua kali lipat dalam semalam. Inilah bukti nyata bagaimana buruknya konektivitas menciptakan beban biaya tinggi yang harus dipikul langsung oleh masyarakat.

Lantaran kepastian tak kunjung datang dan kami sudah telantar selama dua hari tanpa kejelasan tiket langsung ke Jayapura, Fokuspapua.com akhirnya menyerah pada keadaan. Kami terpaksa menguras anggaran lebih dalam untuk membeli tiket alternatif yang ditawarkan: terbang memutar melalui rute perintis Dekai menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Sialnya, drama di bandara belum usai dan biaya tak terduga terus membengkak. Saat kami sedang duduk menanti giliran naik ke lambung pesawat Dimonim Air, Don tiba-tiba datang menghampiri dengan wajah penuh sesal.

“Ibu, maaf sekali, pesawat Dimonim ternyata sudah penuh terisi. Kursi Ibu saya alihkan ke pesawat AMA (Asociasi Missionaris Penerbangan). Tetapi Ibu harus bersabar, mesti menunggu pesawatnya kembali dari melayani beberapa kampung dulu,” kata Don pasrah.

Menunggu di bandara pedalaman adalah seni menguji kesabaran sekaligus ketahanan finansial, karena setiap jam yang tertunda berarti ada biaya makan dan akomodasi tambahan yang harus dikeluarkan. Baru pada pukul 15.20 WIT, pesawat jenis Caravan milik AMA mendarat dan membawa kami terbang membelah langit pegunungan menuju Wamena.

Setibanya di Wamena, petualangan keluar dari lingkaran high cost economy belum usai. Kami harus kembali berkejaran dengan waktu, mendatangi satu demi satu agen tiket demi mencari kursi kosong tujuan Jayapura. Jawaban yang kami terima seragam dan mematahkan harapan: “Seat tujuan Jayapura sudah full.” Semua kursi penerbangan reguler telah habis dipesan oleh sesama penumpang yang telantar.

Satu-satunya asa terakhir yang tersisa untuk keluar dari kepungan pegunungan tengah Papua ini adalah menumpang pesawat Hercules milik Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jumat pagi, 19 Juni 2026, fajar baru saja menyingsing. Tepat pukul 06.30 WIT, di tengah udara Wamena yang menusuk tulang, kami sudah harus berada di pangkalan militer untuk mengantre tiket darurat seharga Rp800.000 per orang.

Pesawat Herkules[pesawat angkutan barang milik TNI] yang kami tumpangi dari Wamena ke Jayapura.
Foto: Alfonsa.

Setelah melalui proses administrasi dan penantian yang panjang, pesawat berbadan besar itu akhirnya menderu, membelah awan, dan membawa kami mendarat di Bandar Udara Sentani, Jayapura tepat pukul 16.00 WIT.

Perjalanan investigasi selama satu minggu di Dekai memberikan sebuah kesimpulan pahit yang nyata bagi catatan ekonomi daerah. Menakar dampak high cost economy di Yahukimo bukan lagi sekadar angka-angka inflasi di atas kertas statistik Bank Indonesia. Dampak itu berwujud nyata pada dompet masyarakat, ketidakpastian usaha, hingga perjuangan fisik menguras energi demi sebuah mobilitas mendasar. Di atas tanah ini, konektivitas masih menjadi barang mewah yang harganya harus dibayar teramat mahal oleh biaya, waktu, dan air mata. (Alfonsa Wayap)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *