Di Papua, hampir setiap gagasan besar selalu diuji dengan satu pertanyaan klasik: Apakah ini terlalu besar bagi kita?
Tulisan Bapak Dr. Benhur Tomi Mano berjudul “Kereta Api vs Realita Papua” patut dihargai sebagai bagian dari tradisi berpikir kritis. Kritik adalah vitamin demokrasi. Namun, kritik yang sehat memerlukan pemahaman proses secara utuh—bukan sekadar membaca potongan awal lalu menganggapnya sebagai keputusan akhir.
Sambil menikmati kopi hitam dari wilayah Lapago, izinkan saya mendudukkan perkara ini agar percakapan publik tetap jernih.
Bukan Mimpi yang Tiba-Tiba
Perlu ditegaskan, gagasan kereta api di Papua bukan lahir kemarin sore. Sejak satu dekade lalu, diskursus ini sudah muncul, bahkan menjadi bagian perencanaan strategis nasional pada masa UP4B.
Pemerintah Provinsi Papua di bawah kepemimpinan Gubernur Matius D. Fakhiri hari ini tidak sedang menciptakan “mimpi baru”. Kami sedang membaca kembali harapan lama para pendahulu, lalu mengujinya dengan realitas zaman dan kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto.
Tahapan Awal vs Keputusan Proyek
Kritik Bapak Benhur mempertanyakan feasibility study (FS) hingga analisis risiko. Pertanyaan ini sah, namun secara metodologis, hal-hal tersebut lahir setelah tahap penjajakan.
Pertemuan Pemprov Papua dan PT KAI adalah penjajakan awal. Mengkritik tahap awal karena belum menghasilkan dokumen teknis ibarat meminta petani menunjukkan hasil panen saat benih baru saja akan disemai.
Sebagai sosok yang memimpin Kota Jayapura selama sepuluh tahun, Bapak Benhur tentu paham bahwa pembangunan infrastruktur selalu dimulai dari gagasan, perencanaan, baru kemudian keputusan. Agak mengherankan jika proses lazim ini tiba-tiba diperlakukan seolah-olah sebagai “ruang gelap” kebijakan.
Melawan Jarak Ekonomi yang Mahal
Realitas Papua adalah topografi yang kompleks. Di sini, jarak geografis seringkali berubah menjadi jarak ekonomi: harga barang mahal dan distribusi lambat.
Respon cepat Pemprov Papua terhadap peluang dari pemerintah pusat bukan soal prestise. Ini adalah strategi integrasi ekonomi untuk memutus isolasi wilayah. Kereta api adalah solusi masa depan untuk mobilitas masyarakat.
Realitas Jangan Matikan Harapan
Papua tidak kekurangan gagasan besar; kita hanya sering kekurangan keberanian untuk percaya bahwa kita bisa memulainya. Realitas memang harus menjadi pijakan, tetapi ia tidak boleh mematikan harapan.
Jika kelak kereta api benar-benar melintas, rel itu bukan sekadar jalur besi. Ia adalah simbol keberanian kita menghubungkan mimpi masa lalu dengan masa depan generasi Papua.
Sebab, “Konektivitas wilayah adalah jalan menuju Papua yang cerah.” Penulis : Dr. Muhammad Rifai Darus, SH., MH. (Juru Bicara Gubernur Papua)


