Pakar Pariwisata: Event Besar bisa Lahir dari Kerja Sama Lintas Sektor

  • Whatsapp
Tarian yang dibawakan pada event Festival Waibu Sentani 2021 yang lalu

JAYAPURA, FP.COM – Aparatur Sipil Negara (ASN) mampu membuat konsep event, perencanaan anggaran, manajemen risiko dan merancang pelaksanaan event yang berkelanjutan sehingga event yang dilaksanakan berkualitas. Hal ini diharapkan Syafruddin, seorang pengajar pada Politeknik Pariwisata Makassar, ketika menjadi pembicara pada kegiatan Bimbingan Teknis Penyelenggara kegiatan (events) bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) di Provinsi Papua yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Papua, Kamis pekan lalu (24/11/2022).

Bimbingan Teknis Penyelenggara kegiatan (events) bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) di Provinsi Papua

“Di dalam pelaksanaan events itu harus totalitas, baik supporting dari pejabat lokal, penganggaran serta instansi-instansi terkait lainnya. Harus ada kolaborasi lintas sektor pada instansi. Khusus di Papua saya melihat potensi itu ada, apalagi Papua ini memiliki keunikan yang boleh dikata tidak ada di tempat lain,” ujar Syafrudin.

Read More

“Itu menjadi salah satu potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan dan dikemas, di situlah peranan dari ASN, dalam hal ini Dinas Pariwisata, bagaimana ide-ide kreatif mereka kemudian diwujudkan dalam perencanaan yang baik didukung dengan penganggaran yang cukup sehingga menghasilkan sebuah event yang bertaraf nasional bahkan internasional.

Syafruddin, Pemateri pada Bimtek Penyelenggara kegiatan bagi ASN di Provinsi Papua

Masih kata Syafruddin, menyebut, kenyataannya, event pariwisata yang dikemas dalam kebudayaan hanya sedikit mendapat perhatian pihak industri sehingga event pada sebuah daerah sering menunggu dana stimulus kementerian, hal ini berdampak pada kualitas event yang berkelanjutan.

“Penganggaran dari pusat itu sifatnya stimulus, artinya pemicu dan pemancing saja agar daerah melakukan event itu.”

Ia berharap, kementerian lebih fokus untuk event berbau budaya, sementara untuk sport yang punya pasar lebih luas sudah cukup menarik untuk pihak ketiga.

Ia juga menyebut komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antarsektor akan mampu membiayai sebuah event.

“Hampir semua dinas itu memiliki anggaran untuk promosi dan pameran, kalau anggaran kecil ini disatukan, maka event ini akan jadi besar,” tukas Syafruddin.

Di tempat yang sama, Kepala Disbudpar Provinsi Papua yang diwakili oleh Kepala bidang Ekonomi Kreatif, Boni Asso, mengatakan, ASN di daerah memiliki peran penting sebagai regulator, pembina, pendamping, pengawas dan penyelenggara event. Diharapkan Bimtek ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan ASN dalam merencanakan event yang berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat maupun kebangkitan pariwisata di Bumi Cenderawasih.

Suasana Diskusi yang berlangsung pada saat Bimtek

“Kami siap untuk pendanaan bimtek seperti ini lagi ke depan, apalagi tahun depan kan wilayah kerja Provinsi Papua semakin berkurang jadi 7 kabupaten dan 1 kota, jadi mungkin dengan rentang kerja yang agak sedikit kita mulai bisa akomodir dan untuk program-program seperti ini.”

“Kita harus lihat urgensinya, kalau memang betul harus kita dorong ya kenapa tidak untuk peningkatan SDM ASN maupun pihak ketiga dalam pembangunan kepariwisataan, ini bisa kita dongkrak,” sambung Boni.

“Kami juga ke depan akan coba lakukan koordinasi supaya tidak tumpang tindih kegiatan yang dilakukan oleh disbudpar, tidak juga terpisah dari dinas yang lain. Dengan adanya koordinasi kita bisa mengemas satu kegiatan yang skalanya besar karena dinas pariwisata ini memang multi stakeholder jadi agar kami juga maksimal kami membutuhkan dukungan lintas sektor, saling bergandengan tangan agar program kepariwisataan di Papua ini bisa lebih maju lagi dengan baik,” pungkas Boni. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *