JAYAPURA,FP.COM – Pemerintah Provinsi Papua terus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan mendorong diversifikasi konsumsi pangan lokal. Salah satu langkah konkret yang kini digencarkan adalah perluasan gerakan One Day No Rice atau satu hari tanpa nasi di lingkungan pemerintahan hingga ke masyarakat luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Papua, Sri Utami, mengungkapkan bahwa menu berbasis pangan lokal kini telah menjadi standar dalam setiap kegiatan resmi pemerintah sebagai bentuk dukungan nyata terhadap potensi daerah.
“Pemanfaatan pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian terus kami biasakan dalam rapat maupun pertemuan resmi. Ini adalah bagian dari gerakan One Day No Rice agar potensi besar pangan Papua semakin termanfaatkan,” ujar Sri Utami di Jayapura (28/2).
Sri Utami menjelaskan bahwa sajian seperti papeda, sagu, dan keladi kini tidak lagi asing dalam agenda pemerintahan. Namun, target pemerintah tidak berhenti di lingkup birokrasi saja. Gerakan ini juga mulai diarahkan untuk merambah sektor rumah tangga, perhotelan, hingga restoran di seluruh Papua.
Langkah ini diyakini mampu menekan ketergantungan pada pasokan beras dari luar daerah. Dengan meningkatnya serapan pangan lokal, peluang ekonomi bagi pelaku UMKM di sektor pertanian dan pengolahan pangan di Papua pun semakin terbuka lebar.
“Jika produk lokal dikonsumsi secara konsisten, ketergantungan kita terhadap beras luar bisa berkurang. Ini berdampak langsung pada stabilitas pasokan dan penguatan ekonomi daerah,” tambahnya.
Selain aspek ekonomi, diversifikasi pangan ini juga membawa pesan kesehatan. Pangan lokal Papua dinilai memiliki nilai gizi tinggi sebagai sumber karbohidrat alternatif yang sehat. Variasi konsumsi diharapkan mampu membangun pola makan masyarakat yang lebih beragam dan tidak terpaku pada satu jenis komoditas saja.
Melalui konsistensi gerakan ini, Pemerintah Provinsi Papua optimistis kemandirian pangan berbasis potensi lokal dapat terwujud sekaligus mengangkat martabat komoditas asli Bumi Cendrawasih. (*)


