Pemerintah Pusat Diminta Libatkan Tokoh Agama dalam Pembangunan Papua

Suasana seminar dan konferensi Pimpinan – pimpinan Gereja di Tanah Papua dalam rangka HPI ke-167 tahun digelar di Hotel Horison Ultima Entrop, Kota Jayapura, Papua/Istimewa

JAYAPURA, FP.COM  – Panitia Hari Pekabaran Injil (HPI) ke – 167 tahun Provinsi Papua menggelar seminar dan konferensi pimpinan – pimpinan Gereja di Tanah Papua, di Hotel Horison Ultima Entrop, Kota Jayapura, Papua, Rabu (16/2/2022). Acara ini dihadiri oleh staf khusus Wakil Presiden RI, Prof. Masyuri Abdillah.

Read More

Kesempatan itu digunakan oleh Ketua Panitia HPI ke-167 yang juga Ketua DPR Papua, Jhony Banua Rou untuk menyampaikan aspirasinya kepada Wakil Presiden.

“Kami meminta Wapres menyampaikan pikiran terkait percepatan pembangunan Papua, dan bagian mana Gereja bisa mengambil bagian,” kata Jhony.

Kata Jhony, Injil lebih dahulu masuk di Papua dan gereja memiliki umat dan pelayanan di berbagai daerah di Papua. Apabila gereja hadir dan bekerja sama dengan pemerintah, maka memiliki pola pikir yang sama untuk membangun Papua yang lebih baik.

Sementara itu Ketua Umum PGGP Pdt. Hezkia Rollo menyebutkan jika selama ini rakyat Papua seperti penonton saja, tidak dilibatkan dalam pembangunan.

“Tuhan baik telah membawa seorang kyai menjadi Wapres, maka kami di Papua juga memiliki kyai yang banyak dalam satu kesatuan gerak, kami percaya bahwa seluruh proses pembangunan di Tanah Papua akan berlangsung dalam suasana damai, sejahtera dan sukacita,” ucap Hezkia.

Ditambahkan, peletak dan pendiri PGGP di Tanah Papua telah keluar dengan tema sentral “Papua Tanah Damai”, sehingga bentuk kekerasan di tanah ini dinyatakan selesai untuk proses pembangunan di segala bidang kehidupan.

Hezkia menyebut, telah menyampaikan kepada Staf Khusus Wapres bahwa semua keinginan di Tanah Papua agar segera dimuat dalam bentuk rekomendasi dan akan dikirim ke Jakarta.

“Nanti mereka sampaikan kepada Wapres dan juga Presiden agar proses pembangunan di Papua melibatkan tokoh agama termasuk di dalamnya rekomendasi yang kami lahirkan dari konferensi dan seminar ini. Harapan kami apa yang disampaikan didengar, diterima dan dilakukan,” kata Hezkia.

“Sebab jika tidak dilakukan seperti yang diminta dari pimpinan gereja ini, maka kami tidak tahu proses pembangunan kedepan nanti seperti apa. Karena kamilah penentu pembangunan awal di Tana Papua dalam nama Tuhan dan atas tanggung jawab kami,” sambungnya.

Peserta seminar lainnya, Pdt. Shirley F. A Parinussa mengatakan, momentum pelaksanaan konferensi dan seminar perayaan HUT Ke – 167 tahun ini merupakan komitmen baru dari semua pemimpin gereja di Tanah Papua meski ada dua provinsi, namun perjuangan tidak terbagi. 

“Seluruh pimpinan gereja dari 58 atau lebih denominasi ini kita mau satukan persepsi, satukan langkah untuk mengawal pembangunan di Tanah Papua secara keseluruhan supaya tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tangisan. Karena apapun yang terjadi atas umat, kami bertanggung jawab,” ujar Shirley.

Dia berharap, komunikasi yang telah terbangun antara PGGP sebagai wakil gereja-gereja lokal dan Wapres RI sebagai Koordinator Program Percepatan Pembangunan Papua dapat menjadi fondasi awal untuk mendorong agenda rekonsiliasi, perdamaian, dan kesejahteraan di Tanah Papua.

Seminar dan konferensi pimpinan – pimpinan Gereja di Tanah Papua terbagi dalam enam sesi dengan enam tema yakni penguatan kelembagaan PGGP, arah dan percepatan pembangunan di Papua, mengatasi masalah – masalah sosial masyarakat di Papua, pemberdayaan SDM: ekonomi dan pendidikan, pandangan dan tanggapan terhadap percepatan pembangunan Papua, blue print Papua Christian atau PCC dan penguatan SDM Gereja dalam rangka kebijakan publik pemerintah daerah dan sinergitas yang saling menguntungkan. FPKontr1

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *