Pemprov Papua Dorong Keerom Jadi Etalase Pariwisata Perbatasan Berdaya Saing

Asisten III Setda Papua Suzana D. Wanggai (tengah), Kadisbudpar Papua Josefintje Wandosa bersama Wabup Keerom H. Daud pada kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Pariwisata di Arso Grand Hotel, Keerom (14/10)

KEEROM,FP.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua mendorong Kabupaten Keerom untuk mengoptimalkan posisinya sebagai etalase pariwisata perbatasan negara yang profesional, berdaya saing, dan berbasis keberlanjutan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata bagi Pengelola Daya Tarik Wisata yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua di Arso Grand Hotel, Kabupaten Keerom, pada 14 hingga 15 Oktober 2026.

Read More

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Gubernur Papua yang diwakili oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Provinsi Papua, Suzana D. Wanggai, serta dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Josefintje Wandosa, Wakil Bupati Keerom H. Daud, serta jajaran pejabat Pemkab Keerom.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Papua yang dibacakannya, Suzana D. Wanggai menegaskan bahwa sebagai wilayah berjuluk “Negeri Tapal Batas Negara”, Kabupaten Keerom memiliki potensi agrowisata, kebudayaan, dan alam yang sangat besar untuk dikembangkan. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi unggul tersebut harus ditopang oleh kesadaran serta kesiapan masyarakat lokal sebagai pelaku utama di tingkat kampung.

“Pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun destinasi dan infrastrukturnya. Kita juga harus membangun manusia yang mampu mengelola, melayani, menjaga, dan mengembangkan destinasi tersebut secara profesional,” tegas Suzana.

Untuk mewujudkan Keerom sebagai destinasi perbatasan yang berdaya saing, Pemprov Papua menggarisbawahi tiga hal utama yang harus diimplementasikan oleh para pengelola wisata:

  1. Profesionalisme Pelayanan: Pengelola harus memiliki kemampuan standar pelayanan yang baik, menerapkan prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability), serta tata kelola destinasi secara profesional agar wisatawan merasa nyaman dan aman.
  2. Penjagaan Kearifan Lokal dan Keberlanjutan: Pariwisata perbatasan wajib tumbuh dengan menghormati adat, budaya, dan kelestarian alam. Budaya Papua tidak boleh kehilangan jati diri, dan lingkungan harus dijaga secara bijaksana demi generasi mendatang.
  3. Kolaborasi Ekonomi Kreatif: Sektor pariwisata perbatasan harus terintegrasi dengan UMKM lokal, rantai pasok transportasi, akomodasi, hingga strategi pemasaran berbasis teknologi digital.

Suzana menambahkan, ketika wisatawan memperoleh pengalaman yang baik di destinasi perbatasan, dampak ekonominya akan mengalir langsung kepada masyarakat lokal. Mulai dari mama-mama penjual noken dan produk kerajinan, pelaku UMKM kuliner, pemandu wisata, hingga pemilik homestay.

Langkah penguatan kapasitas SDM ini menjadi bagian penting dari komitmen Pemprov Papua dalam mendukung pencapaian visi “Terwujudnya Transformasi Papua yang Cerdas, Sejahtera, dan Harmoni (Papua CERAH).”

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh 45 peserta pengelola daya tarik wisata dari berbagai kampung di Kabupaten Keerom. Selama kegiatan, peserta dibekali materi seputar Sadar Wisata, Sapta Pesona, manajemen homestay, penerapan standar CHSE, hingga penyusunan paket wisata perbatasan. (AiWr)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *