Terima Catatan Minus dari Hasil Telusur Akreditasi BLUD, Direktur RSUD Abepura: Kami akan Lengkapi!

Tim surveyor saat mendatangi Poli Paru RSUD Abepura

ABEPURA, FP.COM – Tim surveyor dari LAFKI (Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia) telah merampungkan proses telusur dalam rangka kelayakan RSUD Abepura sebagai Badan Layanan Umum Daerah, Jumat (17/03/23). Secara umum, ada tiga kategori dalam penelusuran ini, yaitu dokumen, keperawatan, dan medis.

Read More

Wisnu Maulana yang memimpin survey pada bidang keperawatan mengatakan, beberapa kekurangan terkait pelayanan seperti loket pendaftaran yang masih manual.

“Petugas harus lebih peka terhadap pasien yang datang untuk bantu mengarahkan dalam hal pengisian formulir,” kata Wisnu.

Masih dalam laporannya, kata Wisnu, di ruang rekam medis perlu tambahan tenaga (laki-laki) dan tangga untuk pengambilan data rekam medis, serta pengeras suara untuk memanggil pasien. Lainnya adalah belum ada thermometer pengukur suhu.

“Kelembaban udara ini penting supaya blanko rekam medisnya awet.”

Di poli anak, beberapa hal yang belum terpenuhi seperti tempat sampah, kursi untuk bedah mulut, westafel portable, dan alat ukur tinggi badan yang tidak normal. Di ruangan perinatulogi ditemukan ada pintu ruangan infeksius tertutup dari depan, namun di belakang terbuka. Seharusnya dua-duanya tertutup. Surveyor juga menemukan Insenerator sudah tidak berfungsi. “Segera pengadaan sebab itu penting sekali,” saran Wisnu.

Catatan surveyor untuk ruang VCT (Voluntary Counselling and Testing), pintu harus dua agar orang yang masuk untuk konseling tidak terlihat orang lain.

Wisnu berharap, wadir pelayanan, kabid keperawatan dan kepala-kepala seksi lebih sering memantau petugas di keperawatan untuk rajin melakukan pengkajian ke pasien.

“Kerja jangan menunggu instruksi dokter, padahal ada tindakan mandiri perawat itu yang harus tunjukkan bahwa perawat adalah mitra dari dokter,” ujarnya.

Dokter Made, surveyor bagian medis menyampaikan sejumlah kekurangan seperti belum adanya brankar di ruang operasi. “Pasien dengan nyeri perut (masih) diantar dengan kursi roda tapi harus brankar untukmeminimalisir pergerakan.”

Di ICU (Intensive Care Unit), didapati peralatan belum dikalibrasi. “Penunjang tolong cek alat-alat tersebut,” lanjut Made.

Demikian pula untuk pasiennya (ICU), menurut Made, penetapan kriteria masuk dan keluarnya harus dirapatkan. “Karena ini adalah pelayanan yang highcost, biaya mahal dengan tempat yang terbatas, apalagi RS Abe hanya punya tiga bed. Masuknya pasien harus selektif.”

“Meminimalisir complain dan berusaha memberikan perawatan yang terbaik. Kalau peralatan rusak ditulisi rusak dan dilaporkan sehingga ada upaya untuk perbaikan,” sambungnya.

Di poli paru, surveyor menemukan tabung oksigen belum ada pengamannya. Sementara untuk sector security (keamanan) mendapat pujian dari surveyor.

Nurelly di bagian dokumen memberikan catatan tentang perpustakaan (library) online dalam kaitan dengan fungsi rumah sakit pendidikan. “Library bukan hanya untuk mahasiswa tapi juga untuk teman-teman yang ada di rumah sakit,” jelasnya. Selain itu harus tersedia laboratorium kedokteran yaitu patologi, anatomi dan ruang istirahat untuk mahasiswa.

Hasil evaluasi juga ditujukan untuk letak tabung gas yang mana harus di luar ruangan. “Untuk mengantisipasi kebakaran dan risiko-risiko meledak,” jelas Nurelly.

Direktur BLUD dan RSUD Abepura dr Daisy Urbinas mengakui hasil telusur yang menyebutkan masih banyak hal yang belum dipenuhi pihaknya. Namun, ia tetap bersyukur untuk catatan-catatan tersebut yang nantinya menjadi dasar perbaikan ke depan.  

“Apa yang menjadi kekurangan hari ini, saya berjanji akan melengkapi semuanya,” yakinnya. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *